Pencarian

News Update :

Translate

Allah, kalimat terakhir Soekarno sebelum meninggal

Selasa, 25 Juni 2013


Hari ini, tepat 43 tahun lalu, Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno , meninggal dunia. Haul Soekarno selalu disambut dengan doa dan tahlilan para Soekarno is. Tahun ini, ribuan warga Blitar menggelar tumpeng sepanjang 2 km di Istana Gebang. Tempat itu merupakan rumah masa kecil Soekarno .

Sayangnya kematian Soekarno tak seindah jasanya memerdekakan negeri ini.

Soekarno meninggal dalam ruang perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak napas dan rematik mengalahkan tubuhnya. Semangatnya sudah hilang bertahun-tahun lalu lalu saat Jenderal Soeharto menahannya di Wisma Yasoo.

Soekarno diasingkan dari rakyat yang dicintainya. Bahkan keluarga sendiri dipersulit jika mau menjenguk. Dengan cepat kesehatannya menurun. Soekarno menjadi linglung dan suka bicara sendiri.

Pengamanan terhadap Soekarno diperketat. Alat sadap dipasang di setiap sudut rumah. Rupanya singa tua sakit-sakitan dalam sangkar berlapis ini masih menakutkan bagi Jenderal Soeharto .

Puncaknya, Soekarno dilarikan dari Wisma Yasoo tanggal 16 Juni 1970 dalam kondisi sekarat. Dia ditempatkan dalam sebuah kamar dengan penjagaan berlapis di lorong-lorong Rumah Sakit. Hal itu diceritakan dalam buku 'Hari-hari Terakhir Soekarno ' yang ditulis Peter Kasenda dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Kondisi Soekarno terus memburuk. Pukul 20.30 WIB, Sabtu 20 Juni 1970, kesadaran Soekarno menurun. Minggu dini hari, Soekarno tak sadar dan koma.

Dokter Mahar Mardjono sadar ini mungkin detik-detik terakhir hidup Putra Sang Fajar itu. Dia kemudian menghubungi anak-anak Soekarno . Meminta mereka segera datang.

Minggu, 21 Juni 1970, pukul 06.30 WIB, anak-anak Soekarno sudah berkumpul di RSPAD. Tampak Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh dan Rachmawati menunggu dengan tegang kabar ayah mereka.

Pukul 07.00 WIB, Dokter Mahar membuka pintu kamar. Anak-anak Soekarno menyerbu masuk ke ruang perawatan. Mereka memberondong Mahar dengan pertanyaan. Namun Mahar tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala.

Pukul tujuh lewat sedikit, suster mencabut selang makanan dan alat bantu pernapasan. Anak-anak Soekarno mengucapkan takbir.

Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya. Soekarno mencoba mengikutinya. Namun kalimat itu tak selesai.

"Allaaaah..." bisik Soekarno pelan seiring nafasnya yang terakhir.

Tangis pecah. Pukul 07.07 WIB, seorang manusia bernama Soekarno kembali pada penciptanya. Berakhirlah tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia.

Tapi kematian juga yang membebaskannya dari status tahanan rumah Orde Baru. Soekarno merdeka dari para pengawal, tembok-tembok tinggi, alat penyadap dan para interogrator. Soekarno telah bebas.

Soekarno mengembuskan napas terakhirnya tepat pukul 07.07 WIB, Minggu 21 Juni 1970 setelah menderita komplikasi penyakit yang cukup parah. Hari-hari terakhir Soekarno dihabiskannya dalam kesendirian, diasingkan oleh bangsanya sendiri.

Setelah Soeharto dilantik menjadi presiden pada bulan Maret 1967, Soekarno menetap di paviliun Istana Bogor ditemani istri keempatnya, Hartini. Setiap hari, Hartini dengan sabar dan penuh kasih sayang melayani Soekarno selama sepekan penuh. Kondisi Soekarno saat itu masih cukup sehat, dan dia seringkali mengunjungi anak-anak dari istrinya Fatmawati yang masih tinggal di Istana Negara. Ketika sore menjelang, Soekarno kembali ke Bogor. Sementara Fatmawati sudah mengungsi ke rumah di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Status Soekarno saat itu sudah ditetapkan sebagai tahanan politik oleh Soeharto terkait peristiwa G30 S/PKI. Karena khawatir dengan Soekarno yang masih 'berkeliaran', Soeharto kemudian memperketat pengawasan. Belakangan Soekarno tidak dibebaskan masuk wilayah Jakarta dan harus mendapat izin dari Pangdam Siliwangi dan Pangdam Jaya untuk melintas.

Keadaan berubah drastis, saat Soeharto memerintahkan seluruh anak Soekarno keluar dari Istana Negara. Saat itu, sekitar awal Agustus 1967, Guntur, Megawati, Rachmawati, Fatmawati, dan Guruh diberi waktu 2x24 jam untuk pindah. Mereka kemudian mengungsi ke sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari rumah ibunya di Jl Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Soekarno pun mendapat perlakuan yang sama. Pada bulan Desember 1967, dia diminta keluar dari paviliun Istana Bogor. Bersama Hartini kemudian Soekarno pindah ke sebuah rumah di kawasan Batutulis Bogor.

Saat Soekarno tidak lagi menjadi presiden, tim dokter kepresidenan yang diketuai Prof Siwabessy dengan anggota dr Soeharto , dr Tang Sin Hin, dan Kapten CPM dr Soerojo yang paham rekam medis Soekarno dibubarkan pada Juli 1967. Sejak itulah, penanganan penyakit Soekarno jauh dari memadai.

Seperti dikutip dari buku 'Hari-hari Terakhir Sukarno' yang ditulis Peter Kasenda, penyakit utama Soekarno hingga dia menutup mata adalah hipertensi atau darah tinggi yang dipengaruhi ginjalnya yang sudah tidak berfungsi maksimal. Ginjal kiri Soekarno sudah tidak berfungsi sama sekali, sedangkan fungsi ginjal kanan tinggal 25 persen.

Selain itu, ada penyempitan pembuluh darah jantung, pembesaran otot jantung, dan gejala gagal jantung. Komplikasi penyakit inilah yang menyebabkan tubuh Soekarno terus membengkak. Namun Soekarno menolak upaya transplantasi ginjal. Soekarno pun kerap mengeluhkan dadanya yang sakit jika batuk-batuk. Saat di-rontgen, ditemukan tulang rusuk yang retak. Demikian juga paru-paru Soekarno yang mengalami bronchi basah disertai keluhan sesak napas. Belum lagi bibit katarak di matanya yang membuat penglihatannya berkurang.

Dengan kondisi yang cukup parah itu, Soekarno tidak mendapat penanganan yang tepat. Ditambah kawasan Bogor yang hawanya terlalu dingin, membuat penderitaannya bertambah parah, terutama penyakit rematiknya. Apalagi, satu-satunya dokter yang merawat Soekarno saat itu, dokter Soerojo bukanlah dokter spesialis. Sang dokter seringkali enggan datang saat Soekarno membutuhkan pertolongan dan obat-obatan. Tak pernah ada langkah konkret dari Presiden Soeharto untuk memenuhi permintaan alat kesehatan seperti alat cuci darah yang sangat dibutuhkan.

Di awal tahun 1968, penyakit Soekarno bertambah. Giginya mengalami ngilu yang luar biasa saat minum air dingin dan sering berdarah. Namun upaya untuk berobat ke Jakarta ditolak oleh Pangdam Jaya dan Soekarno hanya diizinkan berobat di Bogor saja. Penyakit itu ditambah lagi dengan radang sendi di bagian tangan dan pinggulnya. Secara psikis, Soekarno mengalami depresi berat, sulit tidur dan pelupa.

Kondisi yang terus memburuk itulah yang membuat Hartini sedih. Atas permintaan Soekarno , Hartini mengirimkan surat kepada Presiden Soeharto . Hartini memohon agar suaminya diizinkan pindah ke Jakarta agar mendapat perawatan yang lebih layak dan menghindari udara Bogor yang dingin. Surat itu dilampirkan keterangan medis Soekarno berikut rekomendasi dari menteri kesehatan dan tim dokter kepresidenan.

Berbulan-bulan surat itu tidak mendapat tanggapan. Hingga akhirnya, Hartini berupaya kembali mengirimkan surat yang kedua kali. Namun kali ini, Hartini meminta Rachmawati untuk mengantarkan surat itu langsung kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana.

"Mula-mula aku diterima Ibu Tien di lantai bawah. Kemudian langsung diajak naik ke atas dan ditemui oleh Pak Harto. Aku menyampaikan maaf dan menyerahkan surat Bapak serta sekaligus menceritakan bagaimana keadaan Bapak yang sesungguhnya. Hanya satu yang kumohon ketika itu, agar Bapak diizinkan kembali ke Jakarta. Entahlah kekuatan apa yang mendorongku untuk memberanikan diri berjumpa dengan Bapak Soeharto . Betapa aku merasa plong. Pak Harto berjanji akan berusaha mengatur kepindahan Bapak," tulis Rachmawati dalam buku 'Bapakku-Ibuku'
.

Setelah itu, Soekarno akhirnya dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di Jl Gatot Subroto pada sekitar Februari tahun 1969. Di Wisma Yaso, kondisi Soekarno tidak semakin membaik. Ketika tubuhnya yang semakin renta digerogoti penyakit, Soekarno secara terus menerus diinterogasi oleh perwira Kopkamtib untuk mengorek keterlibatannya dalam Gerakan 30 September. Soekarno malah balik memarahi petugas yang memeriksanya ketika ditanya apakah dia terpedaya oleh PKI.

"Berkali-kali saya tanyai Bung Karno soal hubungannya dengan Aidit dan tokoh-tokoh PKI lainnya. Bung Karno selalu marah besar kalau dia dianggap telah diperalat PKI atau dia berada di belakang rencana kup yang gagal itu. Bung Karno selalu berkata bahwa sesungguhnya ia ingin menyatukan berbagai perbedaan di bawah panji nasionalisme-agama-komunis."

Demikian pengakuan Mayjen Kartoyo, salah satu perwira dari Polisi Militer yang menginterogasi Soekarno . Interogasi terhadap Soekarno baru berakhir di awal tahun 1970 ketika Soekarno mengeluhkan hal itu kepada ketua tim dokter kepresidenan Mahar Mardjono.

Selama di Wisma Yaso, Soekarno pernah diizinkan untuk menghadiri pernikahan putrinya Rachmawati yang disunting seorang dokter bernama Martomo Pariatman Marzuki atau yang sering dipanggil Tommy. Soekarno juga pernah diizinkan berkunjung ke Bogor untuk menemui Hartini.

Selama di Wisma Yaso dari tahun 1969 sampai mengembuskan napas terakhir tahun 1970, sejumlah perawat yang secara bergantian merawat Soekarno sempat membuat catatan medis bulanan. Di tahun terakhir hidupnya, tensi darah Soekarno selalu tinggi. Paling rendah 170/90 dan puncaknya mencapai 360/200 saat Soekarno meninggal di RS Pusat Angkatan Darat.

Setiap sarapan, Soekarno selalu menenggak sejumlah obat wajib seperti duvalidan (pencegah kontradiksi ginjal), methadone (pengurang rasa sakit), hingga valium (obat tidur). Kondisinya terus melemah hingga tidak dapat bangkit dari tempat tidur, mandi dan buang air dilakukan di tempat tidur.

Jika memperhatikan catatan medis yang dibuat para perawat, terungkap jika perawatan yang diberikan terhadap Soekarno tidak maksimal. Perawatan di hari-hari terakhir Soekarno diserahkan sepenuhnya kepada dr Soerojo, yang jelas-jelas bukan dokter spesialis, melainkan dokter hewan! Demikian pula dengan jenis obat yang diberikan tidak tepat sasaran. Selain beberapa jenis obat rutin itu, Soekarno hanya diberi suntikan vitamin B1 dan B12.

Salah satu obat yang memberikan dampak buruk adalah valium yang membuat Soekarno tidurnya tidak terkontrol, tapi setelah bangun badannya terasa lemah dan kepalanya pusing. Akibatnya, kondisi tubuhnya makin buruk dan perawat hanya memberikan obat pengurang rasa sakit, novalgin.

Saat kondisinya semakin parah, Soekarno tetap menolak dibawa ke RSPAD, sampai akhirnya dengan sedikit paksaan dan bujukan dari Hartini membuat Soekarno luluh. Menjalani perawatan selama beberapa hari di RSPAD, Soekarno mengembuskan napas terakhir. Sang Proklamator, Bapak Bangsa, dan Pemimpin Besar Revolusi meninggal dalam kondisi menyedihkan
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Arek Japan Kulon 2010 -2011 | Design by Bukan Gagal Maksud | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.