Pencarian

News Update :

Translate

Indonesia Dinilai Sebagai Guru Bagi PencintaPerang Gerilya

Selasa, 19 November 2013

Vietnam baru saja kehilangan salah satu
pahlawan perangnya, Jenderal Vo Nguyen
Giap. Ratusan ribu orang mengantar kepergian
Vo Nguyen Giap, sosok yang bertarung
melawan kolonialisasi Prancis dan juga
serangan Amerika Serikat ke Vietnam. Vo Nguyen Giap juga dikenal sebagai salah
satu master strategi perang gerilya. Dia orang
memimpin pasukan Vietnam dalam serangan
Dien Bien Phu dengan strategi gerilya. Selain Vo Nguyen Giap, dunia mengenal
banyak master perang gerilya. Salah satunya
adalah jenderal kebanggaan Indonesia,
Jenderal A. H. Nasution. Berikut 5 master
perang gerilya yang dirangkum merdeka.com. 1. Jenderal AH Nasution Merdeka.com - Jenderal Nasution dikenal
sebagai ahli perang gerilya. Pengalamannya
sebagai ahli perang gerilya datang setelah
persetujuan Renville 17 Januari 1948. Saat itu
pasukan Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah.
Nasution saat itu sebagai Wakil Panglima Besar Angkatan Perang. Tentara RI ketika itu
memperkirakan Belanda akan mengulangi
agresi militer I. Nasution pun menyusun
konsep perlawanan rakyat semesta dengan
inti perang gerilya. Pada agresi militer II, Nasution diangkat
sebagai Panglima Tentara di Jawa. Bermarkas
di sebuah desa di Prambanan dan Kulonprogo,
Nasution mengeluarkan berbagai instryksi
pelaksanaan perang gerilya. Setelah menjadi
KSAD, Nasution sempat dinonaktifkan akibat peristiwa 17 Oktober 1952. Nasution
diaktifkan kembali pada 1955 dan berjuang
melawan berbagai pemberontakan. Jenderal Nasution dikenal sebagai pengarang
buku produktif. Dia banyak menulis buku di
antaranya 11 jilid buku Sekitar Perang
Kemerdekaan Indonesia. Bukunya Pokok-
Pokok Gerilya diterjemahkan ke berbagai
bahasa asing. Konon, Vietcong belajar dari buku Nasution saat perang melawan Amerika
Serikat di Vietnam. Nasution juga menulis memoar berjudul
Memenuhi Panggilan Tugas sebanyak 8 jilid.
Nasution meninggal dunia pada 5 September
2000. Jenazahnya dimakamkan di TMP
Kalibata. 2. Vo Nguyen Giap Merdeka.com - Pemimpin militer terkemuka
Vietnam, Jenderal Vo Nguyen Giap yang
pasukannya bisa menundukkan Prancis di Dien
Bien Phu, mengungkapkan sejumlah rahasia
kekuatan pasukannya. Pada akhir April 1975, pasukan Vietnam Utara
berhasil membuat pasukan AS dan pasukan
Vietnam Selatan bertekuk lutut. Peristiwa ini
ditandai dengan simbol menyedihkan bagi
Amerika ketika Dubes AS untuk Vietnam
Selatan terbang dengan helikopter dari atap bangunan kedutaannya. "Kami dipaksa untuk menghadapi imperialis
agresif paling kuat dan kejam. Perang
berlangsung selama lima pemerintahan dari
lima presiden dan menghadapi kami dengan
kekuatan tak setara," kata Vo. "Tanpa memegang senjata, Vietnam bisa
berdiri dan menghancurkan rantau
perbudakan dan kemudian mengalahkan dua
imperialis besar untuk membebaskan bangsa
dan rakyat. Mari kita melihat kembali ke
dalam ribuan tahun sejarah, mempelajari kebudayaan nasional serta tradisi serta
warisan kemiliteran bangsa Vietnam,
sekaligus kecenderungan revolusioner
Vietnam." Menurutnya kekuatan bangsa Vietnam
terletak pada pengembangan falsafah
kehidupan dan kebudayaannya dengan
patriotisme pada intinya, (yang menghasilkan)
keinginan tidak menyerah untuk berjuang.
Kekuatan ini telah dimanfaatkan untuk mengatasi kekerasan alam dan agresi asing. Jenderal Vo mencatatkan dirinya dalam
sejarah kemiliteran Vietnam karena strategi-
strate gi militernya sangat cemerlang, seperti pengepung pasukan Prancis di Dien
Bien Phu tahun 1954 dan Serangan Tet (Tet
Offensive) terhadap AS di Vietnam Selatan
tahun 1968. Strategi andalannya adalah perang
gerilya. 3. Che Guevara Merdeka.com - Ernesto Che Guevara lahir pada
14 Juni 1928. Dia lebih dikenal sebagai El Che
atau Che. Dia seorang revolusioner, dokter,
intelektual, pemimpin gerilya, diplomat,
sekaligus ahli militer. Dia disukai dan dibenci
banyak orang. Che Guevara bisa berarti cinta atau benci. Bagi
sebagian orang, nama ini sama dengan
perjuangan kebebasan, namun buat yang lain
berarti pembunuhan. Nama asli Che adalah
Ernesto Lynch. Sewaktu muda Che dijuluki
'Chanco' (babi) karena jarang mandi, sehingga badannya bau. Dia berganti kaus oblong sekali
saban pekan. Che menulis buku Guerilla Warfare setelah
revolusi Kuba. Buku itu diterbitkan pada 1961.
Buku karangan Che menjadi panduan bagi
gerilyawan di seluruh dunia. Banyak yang
menyebut prinsip gerilya Che hampir mirip
seperti isi buku Mao. Tapi Che mengaku tidak pernah membaca buku Mao. 4. Mao Zedong Merdeka.com - Mao Zedong merupakan
pemimpin Partai Komunis China. Dia menjadi
Presiden Republik Rakyat China pada 1949.
Pada masa dia berkuasa, rakyat China hidup di
bawah tekanan tangan besinya. Pada perang sipil di China melawan kubu
nasionalis, Mao memunculkan strategi yang
sering diadopsi banyak pihak sebagai strategi
perang gerilya. Prinsip strategi perang Mao
adalah, saat lawan maju, kami mundur. Saat
musuh berkumpul, kami mengusik. Saat musuh lelah, kami menyerang. Saat musuh
mundur, kami mengejar. Salah satu slogan
yang marak digunakan sebagai perlambang
strategi Mao adalah tarik lenganmu sebelum
memukul. Dengan cara ini pukulan yang
keluar akan lebih dahsyat. 5. Lawrence of Arabia Merdeka.com - TE Lawrence atau Lawrence of
Arabia adalah seorang petualang dari Inggris,
ahli strategi militer. Dia juga menulis
mahakarya "The Seven Pillars of
Wisdom" (1927). Dia menggalang revolusi
Arab dan memulai perlawanan terhadap Turki. Dia berperan dalam membantu Arab kala
berhadapan dengan Turki semasa Perang
Dunia I. Dia memperkenalkan teori taktik gerilya di
sebuah artikel yang ditulisnya pada tahun
1938. Dalam artikelnya dia membandingkan
pejuang gerilya dengan gas. Gerilyawan
berjuang di daerah operasi secara acak.
Mereka atau selnya menduduki tempat inti yang sangat kecil sementara molekul gas
menempati tempat inti terkecil di wadahnya. Gerilyawan dapat bergantung dengan
kelompok untuk tujuan taktis tetapi posisi
pimpinan tersebar. Pejuang seperti itu sangat
sulit dikalahkan. Perjuangan Lawrence difilmkan dalam
"Lawrence of Arabia" dirilis pertama kali pada
tahun 1962 dengan aktor Peter O''Toole
sebagai pemeran tokoh sejarah itu. Film
tersebut berhasil mendapatkan 7 Oscar
termasuk film terbaik dan sutradara terbaik untuk David Lean.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Arek Japan Kulon 2010 -2011 | Design by Bukan Gagal Maksud | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.