Ketua DPR, Marzuki Alie menilai
kasus-kasus penyerangan yang
dilakukan oleh prajurit TNI diyakini
tidak berdiri sendiri, melainkan
suatu bentuk protes prajurit TNI
terhadap produk-produk (hasil) reformasi mulai dari TNI, Kepolisian,
Partai Politik (Parpol), media massa
dan lain-lain. Hal ini disampaikan Marzuki terkait
dengan beberapa insiden kekerasan
yang melibatkan aparat TNI. Hasil
analisa kasus yang melibatkan
prajurit TNI beberapa kali berulang.
Marzuki juga mempertanyakan kenapa yang diserang adalah
lembaga-lembaga produk
reformasi ?? Oleh karenanya ia
melihat kasus penyerangan TNI
tersebut bukan sebagai suatu kasus
yang berdiri sendiri. Diyakini bahwa ini adalah bentuk kekecewaan TNI
terhadap kondisi bangsa ini yang
tidak juga membaik setelah hampir
15 tahun reformasi. Menurut dia, keberadaan TNI pasca
reformasi selama ini sudah mundur
yang berakibat memberi ruang
reformasi untuk berjalan. Namun,
faktanya polisi yang dipisahkan dari
TNI sebagai produk reformasi belum menegakkan hukum secara
konsisten. “Banyak kasus-kasus yang ditangani
kepolisian yang mengecewakan
rakyat. Kasus Djoko Susilo dengan
kekayaannya yang luar biasa
tentunya membuat marah prajurit
sapta marga. Istilahnya untuk TNI kita sudah puasa tapi kamu justru
berpesta pora,” katanya. Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai
Demokrat ini mencontohkan,
beberapa aksi penyerangan TNI
seperti baru-baru ini yang terjadi di
kantor PDIP, berita-berita korupsi
yang melibatkan parpol semakin mendominasi. Sehingga parpol yang
merupakan komponen penting
demokrasi sebagai produk reformasi
tidak menjalankan apa yang
menjadi tujuan reformasi itu sendiri. “Penyerangan PDIP itu simbol saja
akibat ketidaksukaan TNI pada
parpol yang tidak amanah,”
ungkapnya.
Dia melanjutkan, pasca reformasi
keberadaan preman semakin merajalela. Dimana, mereka bisa
melakukan hal apapun yang
bertentangan dengan hukum tanpa
takut ditangkap oleh aparat. “Coba saja lihat bagaimana preman
dengan beraninya mengacung-
acungkan senjata di jalanan laksana
koboy dan berani membunuh
prajurit TNI apalagi sipil yang tidak
bersenjata yang dianggap menghalangi keinginan mereka. Ini
sudah keterlaluan,” tegasnya.
Ditanyakan alasan mengapa
menurut analisanya TNI melakukan
itu, diapun menjawab bahwa tidak
ada ruang bagi TNI untuk mengekspresikan diri mereka dan
keinginan mereka, sementara
mereka sudah tidak tahan melihat
ketidakbenaran selama ini
merajalela. Mantan Sekjen DPP PD ini
menandaskan, prajurit TNI adalah
prajurit-prajurit yang peduli pada
NKRI dan mereka tidak mau NKRI
menjadi lebih berantakan
kondisinya. Untuk itu, dirinya menghimbau agar
ada kesadaran bersama
membangun bangsa ini sehingga
semua rakyat bisa sejahtera
termasuk para prajurit TNI dan
keluarganya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar