Hari ini,
tepat 43 tahun lalu, Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno ,
meninggal dunia. Haul Soekarno selalu disambut dengan doa dan tahlilan
para Soekarno is. Tahun ini, ribuan warga Blitar menggelar tumpeng
sepanjang 2 km di Istana Gebang. Tempat itu merupakan rumah masa kecil
Soekarno .
Sayangnya kematian Soekarno tak seindah jasanya
memerdekakan negeri ini.
Soekarno meninggal dalam ruang
perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Komplikasi ginjal, gagal
jantung, sesak napas dan rematik mengalahkan tubuhnya. Semangatnya sudah
hilang bertahun-tahun lalu lalu saat Jenderal Soeharto menahannya di
Wisma Yasoo.
Soekarno diasingkan dari rakyat yang dicintainya.
Bahkan keluarga sendiri dipersulit jika mau menjenguk. Dengan cepat
kesehatannya menurun. Soekarno menjadi linglung dan suka bicara sendiri.
Pengamanan terhadap Soekarno diperketat. Alat sadap dipasang di
setiap sudut rumah. Rupanya singa tua sakit-sakitan dalam sangkar
berlapis ini masih menakutkan bagi Jenderal Soeharto .
Puncaknya, Soekarno dilarikan dari Wisma Yasoo tanggal 16 Juni 1970
dalam kondisi sekarat. Dia ditempatkan dalam sebuah kamar dengan
penjagaan berlapis di lorong-lorong Rumah Sakit. Hal itu diceritakan
dalam buku 'Hari-hari Terakhir Soekarno ' yang ditulis Peter Kasenda dan
diterbitkan Komunitas Bambu.
Kondisi Soekarno terus memburuk.
Pukul 20.30 WIB, Sabtu 20 Juni 1970, kesadaran Soekarno menurun. Minggu
dini hari, Soekarno tak sadar dan koma.
Dokter Mahar Mardjono
sadar ini mungkin detik-detik terakhir hidup Putra Sang Fajar itu. Dia
kemudian menghubungi anak-anak Soekarno . Meminta mereka segera datang.
Minggu, 21 Juni 1970, pukul 06.30 WIB, anak-anak Soekarno sudah
berkumpul di RSPAD. Tampak Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh dan
Rachmawati menunggu dengan tegang kabar ayah mereka.
Pukul
07.00 WIB, Dokter Mahar membuka pintu kamar. Anak-anak Soekarno menyerbu
masuk ke ruang perawatan. Mereka memberondong Mahar dengan pertanyaan.
Namun Mahar tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala.
Pukul
tujuh lewat sedikit, suster mencabut selang makanan dan alat bantu
pernapasan. Anak-anak Soekarno mengucapkan takbir.
Megawati
membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya. Soekarno mencoba
mengikutinya. Namun kalimat itu tak selesai.
"Allaaaah..."
bisik Soekarno pelan seiring nafasnya yang terakhir.
Tangis
pecah. Pukul 07.07 WIB, seorang manusia bernama Soekarno kembali pada
penciptanya. Berakhirlah tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat
Indonesia.
Tapi kematian juga yang membebaskannya dari status
tahanan rumah Orde Baru. Soekarno merdeka dari para pengawal,
tembok-tembok tinggi, alat penyadap dan para interogrator. Soekarno
telah bebas.
Soekarno mengembuskan napas terakhirnya tepat
pukul 07.07 WIB, Minggu 21 Juni 1970 setelah menderita komplikasi
penyakit yang cukup parah. Hari-hari terakhir Soekarno dihabiskannya
dalam kesendirian, diasingkan oleh bangsanya sendiri.
Setelah
Soeharto dilantik menjadi presiden pada bulan Maret 1967, Soekarno
menetap di paviliun Istana Bogor ditemani istri keempatnya, Hartini.
Setiap hari, Hartini dengan sabar dan penuh kasih sayang melayani
Soekarno selama sepekan penuh. Kondisi Soekarno saat itu masih cukup
sehat, dan dia seringkali mengunjungi anak-anak dari istrinya Fatmawati
yang masih tinggal di Istana Negara. Ketika sore menjelang, Soekarno
kembali ke Bogor. Sementara Fatmawati sudah mengungsi ke rumah di Jalan
Sriwijaya, Jakarta Selatan.
Status Soekarno saat itu sudah
ditetapkan sebagai tahanan politik oleh Soeharto terkait peristiwa G30
S/PKI. Karena khawatir dengan Soekarno yang masih 'berkeliaran',
Soeharto kemudian memperketat pengawasan. Belakangan Soekarno tidak
dibebaskan masuk wilayah Jakarta dan harus mendapat izin dari Pangdam
Siliwangi dan Pangdam Jaya untuk melintas.
Keadaan berubah
drastis, saat Soeharto memerintahkan seluruh anak Soekarno keluar dari
Istana Negara. Saat itu, sekitar awal Agustus 1967, Guntur, Megawati,
Rachmawati, Fatmawati, dan Guruh diberi waktu 2x24 jam untuk pindah.
Mereka kemudian mengungsi ke sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari
rumah ibunya di Jl Sriwijaya, Jakarta Selatan.
Soekarno pun
mendapat perlakuan yang sama. Pada bulan Desember 1967, dia diminta
keluar dari paviliun Istana Bogor. Bersama Hartini kemudian Soekarno
pindah ke sebuah rumah di kawasan Batutulis Bogor.
Saat
Soekarno tidak lagi menjadi presiden, tim dokter kepresidenan yang
diketuai Prof Siwabessy dengan anggota dr Soeharto , dr Tang Sin Hin,
dan Kapten CPM dr Soerojo yang paham rekam medis Soekarno dibubarkan
pada Juli 1967. Sejak itulah, penanganan penyakit Soekarno jauh dari
memadai.
Seperti dikutip dari buku 'Hari-hari Terakhir Sukarno'
yang ditulis Peter Kasenda, penyakit utama Soekarno hingga dia menutup
mata adalah hipertensi atau darah tinggi yang dipengaruhi ginjalnya yang
sudah tidak berfungsi maksimal. Ginjal kiri Soekarno sudah tidak
berfungsi sama sekali, sedangkan fungsi ginjal kanan tinggal 25 persen.
Selain itu, ada penyempitan pembuluh darah jantung, pembesaran
otot jantung, dan gejala gagal jantung. Komplikasi penyakit inilah yang
menyebabkan tubuh Soekarno terus membengkak. Namun Soekarno menolak
upaya transplantasi ginjal. Soekarno pun kerap mengeluhkan dadanya yang
sakit jika batuk-batuk. Saat di-rontgen, ditemukan tulang rusuk yang
retak. Demikian juga paru-paru Soekarno yang mengalami bronchi basah
disertai keluhan sesak napas. Belum lagi bibit katarak di matanya yang
membuat penglihatannya berkurang.
Dengan kondisi yang cukup
parah itu, Soekarno tidak mendapat penanganan yang tepat. Ditambah
kawasan Bogor yang hawanya terlalu dingin, membuat penderitaannya
bertambah parah, terutama penyakit rematiknya. Apalagi, satu-satunya
dokter yang merawat Soekarno saat itu, dokter Soerojo bukanlah dokter
spesialis. Sang dokter seringkali enggan datang saat Soekarno
membutuhkan pertolongan dan obat-obatan. Tak pernah ada langkah konkret
dari Presiden Soeharto untuk memenuhi permintaan alat kesehatan seperti
alat cuci darah yang sangat dibutuhkan.
Di awal tahun 1968,
penyakit Soekarno bertambah. Giginya mengalami ngilu yang luar biasa
saat minum air dingin dan sering berdarah. Namun upaya untuk berobat ke
Jakarta ditolak oleh Pangdam Jaya dan Soekarno hanya diizinkan berobat
di Bogor saja. Penyakit itu ditambah lagi dengan radang sendi di bagian
tangan dan pinggulnya. Secara psikis, Soekarno mengalami depresi berat,
sulit tidur dan pelupa.
Kondisi yang terus memburuk itulah yang
membuat Hartini sedih. Atas permintaan Soekarno , Hartini mengirimkan
surat kepada Presiden Soeharto . Hartini memohon agar suaminya diizinkan
pindah ke Jakarta agar mendapat perawatan yang lebih layak dan
menghindari udara Bogor yang dingin. Surat itu dilampirkan keterangan
medis Soekarno berikut rekomendasi dari menteri kesehatan dan tim dokter
kepresidenan.
Berbulan-bulan surat itu tidak mendapat
tanggapan. Hingga akhirnya, Hartini berupaya kembali mengirimkan surat
yang kedua kali. Namun kali ini, Hartini meminta Rachmawati untuk
mengantarkan surat itu langsung kepada Presiden Soeharto di Jalan
Cendana.
"Mula-mula aku diterima Ibu Tien di lantai
bawah. Kemudian langsung diajak naik ke atas dan ditemui oleh Pak Harto.
Aku menyampaikan maaf dan menyerahkan surat Bapak serta sekaligus
menceritakan bagaimana keadaan Bapak yang sesungguhnya. Hanya satu yang
kumohon ketika itu, agar Bapak diizinkan kembali ke Jakarta. Entahlah
kekuatan apa yang mendorongku untuk memberanikan diri berjumpa dengan
Bapak Soeharto . Betapa aku merasa plong. Pak Harto berjanji akan
berusaha mengatur kepindahan Bapak," tulis Rachmawati dalam buku
'Bapakku-Ibuku'
.
Setelah itu, Soekarno akhirnya dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum
Satria Mandala) di Jl Gatot Subroto pada sekitar Februari tahun 1969. Di
Wisma Yaso, kondisi Soekarno tidak semakin membaik. Ketika tubuhnya
yang semakin renta digerogoti penyakit, Soekarno secara terus menerus
diinterogasi oleh perwira Kopkamtib untuk mengorek keterlibatannya dalam Gerakan 30 September. Soekarno malah
balik memarahi petugas yang memeriksanya ketika ditanya apakah dia
terpedaya oleh PKI.
"Berkali-kali saya tanyai Bung Karno
soal hubungannya dengan Aidit dan tokoh-tokoh PKI lainnya. Bung Karno
selalu marah besar kalau dia dianggap telah diperalat PKI atau dia
berada di belakang rencana kup yang gagal itu. Bung Karno selalu berkata
bahwa sesungguhnya ia ingin menyatukan berbagai perbedaan di bawah
panji nasionalisme-agama-komunis."
Demikian pengakuan Mayjen Kartoyo, salah satu perwira dari Polisi
Militer yang menginterogasi Soekarno . Interogasi terhadap Soekarno baru
berakhir di awal tahun 1970 ketika Soekarno mengeluhkan hal itu kepada
ketua tim dokter kepresidenan Mahar Mardjono.
Selama di Wisma
Yaso, Soekarno pernah diizinkan untuk menghadiri pernikahan putrinya
Rachmawati yang disunting seorang dokter bernama Martomo Pariatman
Marzuki atau yang sering dipanggil Tommy. Soekarno juga pernah diizinkan
berkunjung ke Bogor untuk menemui Hartini.
Selama di Wisma
Yaso dari tahun 1969 sampai mengembuskan napas terakhir tahun 1970,
sejumlah perawat yang secara bergantian merawat Soekarno sempat membuat
catatan medis bulanan. Di tahun terakhir hidupnya, tensi darah Soekarno
selalu tinggi. Paling rendah 170/90 dan puncaknya mencapai 360/200 saat
Soekarno meninggal di RS Pusat Angkatan Darat.
Setiap sarapan,
Soekarno selalu menenggak sejumlah obat wajib seperti duvalidan
(pencegah kontradiksi ginjal), methadone (pengurang rasa sakit), hingga
valium (obat tidur). Kondisinya terus melemah hingga tidak dapat bangkit
dari tempat tidur, mandi dan buang air dilakukan di tempat tidur.
Jika memperhatikan catatan medis yang dibuat para perawat, terungkap
jika perawatan yang diberikan terhadap Soekarno tidak maksimal.
Perawatan di hari-hari terakhir Soekarno diserahkan sepenuhnya kepada dr
Soerojo, yang jelas-jelas bukan dokter spesialis, melainkan dokter
hewan! Demikian pula dengan jenis obat yang diberikan tidak tepat
sasaran. Selain beberapa jenis obat rutin itu, Soekarno hanya diberi
suntikan vitamin B1 dan B12.
Salah satu obat yang memberikan
dampak buruk adalah valium yang membuat Soekarno tidurnya tidak
terkontrol, tapi setelah bangun badannya terasa lemah dan kepalanya
pusing. Akibatnya, kondisi tubuhnya makin buruk dan perawat hanya
memberikan obat pengurang rasa sakit, novalgin.
Saat kondisinya
semakin parah, Soekarno tetap menolak dibawa ke RSPAD, sampai akhirnya
dengan sedikit paksaan dan bujukan dari Hartini membuat Soekarno luluh.
Menjalani perawatan selama beberapa hari di RSPAD, Soekarno mengembuskan
napas terakhir. Sang Proklamator, Bapak Bangsa, dan Pemimpin Besar
Revolusi meninggal dalam kondisi menyedihkan