Pencarian

News Update :

Translate

Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Pekerja Bangunan Temukan Arca Kuno Di SMPN 1 Kauman

Rabu, 19 Februari 2014

Arca di SMPN Kauman


Para pekerja dan warga di sekitaran SMPN 1 Kauman, Jalan Candi desa Nongkodono kec Kauman dikejutkan dengan penemuan arca kuno saat menggali pondasi di SMPN Kauman sekitar jam 15.30, Rabu 19 Februari 2014.

Arca yang ditemukan berupa patung manusia dalam posisi berdiri terbuat dari batu dengan tinggi sekitar 40-50 cm. Arca yang ditemukan saat ini disimpan di SMPN Kauman dan dijaga oleh warga demi keamanan.

“Sengaja di simpan di lokasi mas,soalnya ini benda bersejarah. Sudah kita laporkan ke pihak instansi terkait agar ditindak lanjuti. Warga nanti menjaga penemuan sejarah ini demi keamanan” ucap warga sekitar kepada crew SETENPO.

Berdasar sejarah, di Ponorogo telah berdiri sebuah kerajaan bernama Wengker dengan raja pertama bernama Ketut Wijaya yang memerintah sekitar tahun 986 -1037 M. Kerajaan ini berdiri satu era dengan era kerajaan Kediri.

Kenapa Hotel MacDonald Jadi Sasaran Pengeboman Usman Harun?

Rabu, 12 Februari 2014

Aksi Serda Usman dan Kopral Harun Said mengebom hotel MacDonald disebut pihak Singapura sebagai tindakan teroris karena menimbulkan korban dari sipil. Namun ternyata, ada alasan khusus kenapa TNI memilih hotel sebagai target penyerangan. Apa itu? Kasubdisjarah TNI AL Kolonel Laut Rony E Turangan memastikan ada misi khusus terhadap hotel MacDonald dari negara. Tempat dan nama MacDonald adalah simbol kekuasaan Inggris di Asia Tenggara. "Jadi ada tokoh namanya Malcolm MacDonald, dia adalah salah satu British high comissioner untuk jajahan Inggris di Asia Tenggara," kata Rony saat berbincang dengan detikcom, Rabu (12/2/2014). Menurut Rony berdasarkan buku sejarah TNI, Malcolm MacDonald adalah salah satu yang mencetuskan ide pembentukan federasi 3S (Singapura, Sarawak dan Sabah). Hal inilah yang membuat Presiden Soekarno kala itu marah dan mengeluarkan pernyataan 'Ganyang Malaysia' karena dianggap awal mula tindakan kolonialisme gaya baru. "Beliau meminta agar federasi 3S ini digagalkan, jangan sampai terbentuk," tegasnya. Sedikit catatan soal Malcolm MacDonald. Dia adalah anak dari mantan PM Inggris Ramsay MacDonald dan Margaret MacDonald. Dia adalah politisi yang bergabung di partai buruh. MacDonalad menjadi British High Comissioner untuk kawasan Asia Tenggara pada tahun 1948. Lalu dia pindah ke India tahun 1955. Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia dimulai sejak tahun 1961, kala itu proposal untuk pembentukan Federasi 3S diumumkan. Mereka hendak membuat negara federasi yang menggabungkan kawasan Malaya, Sabah dan Singapura. Indonesia protes soal ini karena berpotensi menimbulkan neokolonialisme. Tahun 1963 muncullah istilah 'Ganyang Malaysia' karena negara federasi Malaysia akhirnya terbentuk, tanpa Brunei Darussalam. Lalu pada tahun 1965, terjadi peledakan bom di hotel MacDonald oleh Usman dan Harun. Setelah terjadi pergantian kepemimpinan ke Soeharto, maka konfrontasi dengan Malaysia pun berakhir. Pada tahun 1966, Indonesia menandatangani perjanjian damai dengan Kuala Lumpur.

CERITA ASAL MULA REYOG PONOROGO VERSI KI AGENG KUTU

Senin, 03 Februari 2014



KI AGENG KUTU

Legenda kesenian reog ini merupakan sindiran atau satire sekaligus mempunyai makna simbolis yang timbul pada masa Raja Bre Kertabumi yaitu raja terakhir kerajaan Majapahit. Hal ini berawal dari menyingkirnya penasehat kerajaan yang bernama Ki Ageng Ketut Suryo Alam dari Istana Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Ketut Suryo Alam menganggap Prabu Bre Kertabumi telah menyimpang dari tatanan moral kerajaan. Penyimpangan moral inilah yang dinilai awal dari kehancuran Majapahit, dimana kebijakan politik Majapahit waktu itu banyak dipengaruhi oleh permaisuri sehingga banyak kebijakan, peraturan Raja yang tidak benar. Ki Ageng Ketut Suryo Alam menyingkir ke suatu daerah di selatan, yang bernama Kutu. Suatu desa kecil yang masuk wilayah Wengker.
Kemudian Ki Ageng Ketut Suryo Alam mendirikan sebuah padepokan yang mengajarkan sikap seorang prajurit dan kesatria yang gagah dan perkasa. Seorang prajurit harus taat kepada kerajaan dan sakti. Untuk menempuh tujuan tersebut Ki Ageng Ketut Suryo Alam atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Ki Demang Kutu melarang muridnya berhubungan dengan wanita (wadat). Menurut kepercayaanya, barang siapa melanggar ajaran tersebut, kekuatan atau kesaktinnya akan berkurang, bahkan hilang sama sekali. Untuk itulah muridnya harus tinggal di padepokannya. Kepemimpinan dan padepokan Ki Ageng Kutu cepat menyebar dan popular ke beberapa daerah lainnya.
Di dalam padepokan tersebut, Ki Ageng Kutu merenung dan berfikir, bagaimana strategi untuk melawan Majapahit yang dianggapnya meyimpang. Dalam perenungannya muncul pendapat bahwa peperangan bukanlah cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, sehingga diciptakanlah sebuah perlawanan secara psikologis dengan membuat kritikan lewat media kesenian. Sebuah drama tari yang menggambarkan keadaan kerajaan Majapahit, dan oleh Ki Ageng Kutu disebut REOG.
Ki Ageng Kutu sebagai tokoh warok yang dikelilingi oleh para murid – muridnya menggambarkan fungsi dan peranan sesepuh masih tetap diperlukan dan harus diperhatikan.
Pelaku dalam Drama tari tersebut adalah Singo Barong yang mengenakan bulu merak di atas kepalanya menunjukkan kecongkakan atau kesombongan sang Raja, yang selalu diganggu kecantikan permaisurinya dalam menentukan kebijakan kerajaan.
Penari kuda atau Jathilan yang diperankan oleh seorang laki – laki yang lemah gemulai dan berdandan seperti wanita menggambarkan hilangnya sifat keprajuritan kerajaan Majapahit. Tarian penunggang kuda yang aneh menggambarkan ketidakjelasan peranan prajurit kerajaan, ketidak disiplinan prajurit terhadap rajanya, namun raja berusaha mengembalikan kewibawaannya kepada rakyat yang digambarkan dengan penari kuda (Jathilan) berputar – putarnya mengelilingi Sang Raja.
Seorang pujangga kerajaan digambarkan oleh Bujang Ganong yang memili wajah berwarna merah, mata melotot dan berhidung panjang menggambarkan orang bijaksana, bernalar panjang tetapi tidak digubris oleh Raja sehingga harus menyingkir dari kerajaan.
Setelah Ki Ageng Kutu meninggal, kesenian ini diteruskan oleh Ki Ageng Mirah pada masa Bathoro Katong (Bupati pertama Ponorogo) hingga sekarang. Oleh Ki Ageng Mirah cerita yang berlata belakang sindiran tersebut digantikan dengan cerita Panji. Kemudian dimasukkan tokoh – tokoh panji seperti Prabu Kelana Sewandana, Dewi Songgolangit yang menggambarkan peperangan antara kerajaan Kediri dan Bantar Angin. to be continue besok di lanjut gan ane dah ngantuk nih

Studi: Manusia Ternak Sapi di China Sejak 10.000 Tahun Lalu Penelitian itu dipimpin oleh Profesor Michi Hofreiter.

Kamis, 05 Desember 2013


Sekelompok peneliti menemukan bukti fosil yang menjelaskan bahwa peternakan sapi di China telah dimulai sejak 10.000 tahun yang lalu.

Penelitian itu dipimpin oleh Profesor Michi Hofreiter dari Departemen Biologi dari University of York dan Profesor Hucai Zhang dari Yunnan Normal University, yang dirilis di jurnal Nature Communications, 8 November 2013, dilansir Examiner, hari ini.

Hal itu disimpulkan setelah para peneliti menemukan fosil rahang bawah dari spesimen ternak sapi tua saat melakukan penggalian di wilayah Timur Laut China. Setelah diamati, spesimen itu diperkirakan berusia 10.660 tahun.

Adanya pola gigi molar yang aus menunjukkan bahwa manusia turut terlibat dalam pemberian makan hewan ternak itu. Uji DNA pun mengindikasikan bahwa spesies sapi tua itu tidak punya hubungan sama sekali dengan hewan ternak yang menyebar di Timur Dekat dan Asia Selatan.

Sebelumnya, sejumlah ahli paleontologi menemukan bahwa manusia memulai ternak sapi tanpa punuk (Taurine) di wilayah Timur Dekat sejak 10.000 tahun yang lalu, dan masyarakat di Asia mulai menggembala sapi berpunuk (Zebu) 2.000 tahun setelahnya.

Namun, temuan fosil ini menunjukkan bahwa penggembalaan sapi juga dipelihara manusia di China pada rentang waktu yang relatif sama. Anehnya, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kedua budaya sempat berhubungan dalam lingkup peternakan hewan sapi. (eh)

PEDANG PALING TAJAM DIDUNIA. TERNYATA DIMILIKI OLEH SULTHAN SALADHIN.. SUBHAANALLAH..

Sabtu, 03 Agustus 2013


Pedang Salahuddin Al-Ayyubi diakui paling tajam di dunia oleh pakar metalurgi. Ketajamannya mampu menembus baju zirah crusader, memotong dua pedang lawan, membelah perisai dan batu tanpa mengalami kerusakan pada matanya. Kehebatan pedang buatan Damsyik dan terkenal dengan panggilan Pedang Persia ini telah mengalahkan kehebatan pedang Katana dari Jepang dan pedang Excalibur milik Raja Arthur.

Spoilerfor Salahuddin Al-Ayyubi:



Pedang ini dibuat dengan besi baja "Damascus" dengan teknik rahasia yang dibaluti CNT (Carbon Nano Tubes) yang menjadikannya AMAT TAJAM dan LENTUR. Seni pembuatan pedang yang terahasia ini amat dikagumi oleh pihak Barat, mereka masih berupaya untuk mempelajari pedang berteknologi tinggi (teknologi NANO) dari peradaban Islam pada kurun ke-12 ini.

Apa itu CNT?

CNT merupakan suatu rantaian atom karbon yang terikat di antara satu sama lain secara heksagonal berbentuk silinder yang mempunyai diameter sekecil 1-2 nanometer. Silinder CNT ini boleh mencapai panjang sehingga berpuluh-puluh mikron dan tertutup di bagian ujung seolah-olah sebatang pipa yang ditutup dikedua-dua ujungnya.

Pencirian yang dilakukan terhadap bahan ini juga menjelaskan bahawa CNT mempunyai kekuatan paling tinggi berbanding bahan lain. Ia juga mempunyai sifat kekonduksian elektrik melebihi kromium dan logam. Keunikan tub karbon nano yang lain ialah mempunyai ketahanan terhadap suhu tinggi serta mempunyai massa yang lebih ringan dari aluminium.
DAN TERNYATA TEKNOLOGI NANO, DI ZAMAN KEJAYAAN ISLAM SUDAH ADA...
Teknologi NANO

Kehebatan Pedang Salahuddin Al-Ayyubi telah dibongkar oleh Prof Dr. Peter Paufler dari Jerman. Prof tersebut menjumpai CNT di dalam pedang tersebut bersama senjata2 yang digunakan oleh tentara-tentara Islam pada ketika itu sewaktu perang Salib. CNT ini yang menjadikan pedang tentara Islam ini sangat tajam tetapi mudah lentur. Teknologi NANO ini menggunakan besi baja "Damascus" yang juga dipanggil wootz. Bijih besi ini mengandung ratusan unsur Karbon. Selain besi dan karbon, unsur-unsur seperti Kromium, Mangan, Kobalt juga ditambahkan bagi yang ingin menambahkan lagi kekuatan, ketajaman dan kelenturannya.

Teknik pembuatan pedang ini begitu rahsia sehinggakan hanya beberapa keluarga tukang besi di Damsyik saja yang menguasainya. Akhirnya pada kurun ke-18, teknologi pembuatan pedang ini telah pupus. Apa yang tinggal hanyalah pedang-pedang, tombak dan pisau yang kini tersebar di berbagai Museum di seluruh dunia. Sekedar mengingatkan kita bahwa Teknologi Hebat Peradaban Islam ini telah hilang di telan zaman.

Wallahua'lam

Kerajaan Wengker, Sebelum Kabupaten Ponorogo

Jumat, 26 Juli 2013



Wengker sebelum jaman Majapahit

Setelah kerajaan Medang di Jawa Tengah bubar, tahun 928 M Mpu Sindok pindah ke Jawa Timur. Mpu Sindok naik tahta menjadi raja pertama kerajaan Medang di Jawa Timur tahun 929 M bergelar Sri Isyana Wikrama Darmatunggadewa, yang mana menjadi moyang bagi raja-raja di Jawa selama 300 tahun berturut-turut. Ia memerintah dengan permaisurinya Parameswari Sri Wardani mpu Kbi (Putri Rakai Wawa), untuk menjalankan pemerintahan. Dalam buku “Babad Ponorogo” karya Purwowijoyo, disebutkan selain Mpu Sindok ada lagi satu rombongan yang pindah ke Jawa Timur dibawah pimpinan Ketut Wijaya, putra raja Medang. Kemudian mendirikan kerajaan yang diberi nama Wengker. Ketut Wijaya berkuasa tahun 986 -1037 M.
Nama Wengker adalah akronim dari “Wewengkon angker” atau tempat yang angker. Letak kerajaan Wengker dibawah pimpinan Kettu Wijaya bermacam versi. Dalam “Babad Ponorogo” disebutkan Sebelah utara : antara gunung Kendeng dan gunung Pandan, Sebelah Timur : Gunung Wilis sampai wilayah laut Selatan. Sebelah Selatan : Wilayah Laut selatan, dan Sebelah barat : pegunungan mulai laut selatan sampai Gunung Lawu. Dalam buku ini juga disebutkan keraton Wengker di sekitar Setono Kecamatan Jenangan (mengutip pendapat dari Prof.Dr. NJ.Krom dan Dra.Setyawati Suleman). Digambarkan Kerajaan Wengker pada saat itu aman santosa, rakyatnya senang melakukan tapa brata dan menguasai banyak ilmu batin. Adapun batas wilayah ditandai dengan sungai, untuk pertahanan wilayah terdapat tiga benteng dalam tanah istilahnya Benteng Pendem. Versi lain sebagaimana dalam buku “Ungkapan sejarah kerajaan Wengker dan Reyog Ponorogo” (Moelyadi) letak kerajaan Wengker masa ini adalah di daerah Dolopo Madiun, pusatnya di Desa Daha.
Pada tahun 947 M, Mpu Sindok digantikan anaknya yang bernama Sri Isyanatungga Wijaya yang menikah dengan Sri Lokapala. Selanjutnya ia digantikan putranya, Sri Makuthawangsa Wardana. Sri Makuthawangsa Wardana mempunyai dua orang putri. Salah satu putrinya menikah dengan Dharmawangsa. Selanjutnya sang menantu itulah yang kemudian memegang tampuk kekuasaan di Medang. Salah satu putri Makuthawangsa yang bernama Mahendradatta menikah dengan Udayana dan mempunyai anak bernama Airlangga. Dalam memimpin Medang, Dharmawangsa mempunyai ambisi besar memperluas wilayah. Kerajaan Medang saat itu diperkirakan di sekitar daerah Maospati Magetan
Pada tahun 1016 M, kerajaan Medang diserang Sriwijaya bersama sekutunya yaitu Wurawari dan Wengker, sehingga raja Dharmawangsa dan seluruh pembesar istana tewas. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Pralaya“ atau kehancuran. Dalam Prasasti Kalkuta yaitu Prasasti Airlangga, disebut bahwa “Ri Prahara, haji Wurawari maso mijil sangka Lwaran”. Letak Wurawari ada beberapa pendapat. Menurut Moh. Hari Soewarno di Jawa Timur. Menurut Prof.Dr.G.De Casparis dari Semenanjung Malaka. Ada pula yang berpendapat di Banyumas. penyerangan Raja Wurawari ada yang berpendapat disebabkan iri atas kegagalannya mempersunting putri Dharmawangsa. Selain itu berserta sekutunya ingin menghancurkan Medang. Sementara keterlibatan Wengker adalah pengaruh ekspansif  Medang yang berusaha memperluas wilayah dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil dan juga persaingan di bidang ekonomi.
Satu-satunya yang berhasil lolos dari serangan tersebut adalah Airlangga, yang pada saat itu sedang melangsungkan pernikahan dengan putri Dharmawangsa. Pada waktu itu usia Airlangga 16 tahun, beserta Narotama ia bersembunyi di hutan sekitar daerah Wonogiri. Pada tahun 1019 M, Airlangga dinobatkan menjadi raja Kahuripan yang terletak di bekas reruntuhan bekas Kerajaan Medang. Saat itu bekas Kerajaan Medang sepeninggal Dharmawangsa merupakan wilayah yang kecil karena setelah “pralaya”, wilayah Medang terpecah-pecah.
Patung Ghanesa di duga peninggalan Wengker

Tahun 1028 M, Airlangga memulai usahanya menyatukan kembali wilayah Medang, termasuk terhadap Kerajaan Wengker.  Tahun 1031 Wengker bisa ditaklukkan. Pada tahun 1035 M Kerajaan Wengker ternyata bangkit dan kuat lagi. Airlangga kembali menyerang Wengker dengan kekuatan pasukan yang besar pada tahun 1037 M, Kettu Wijaya mengalami kekalahan, terpaksa meninggalkan harta benda dan permaisurinya. Kettu Wijaya lari ke desa Topo, kemudian pindah ke Kapang diikuti beberapa prajuritnya. Karena terus diserang pasukan Airlangga ia lari ke Sarosa. Di sinilah akhirnya Ketut Wijaya bisa dikalahkan, dan ia dibunuh oleh prajuritnya sendiri, versi lain mengatakan Kettu Wijaya hilang beserta jiwa raganya (moksa). Sumber lain ada menyebutkan, setelah dikalahkan Airlangga Kettu Wijaya menjadi pertapa. Dengan demikian berakhirlah riwayat kerajaan Wengker era Kettu Wijaya. Selanjutnya wilayah Wengker menjadi daerah kekuasaan Airlangga.
Raja Wengker selanjutnya adalah Prabu Jaka Bagus (Sri Garasakan), yang memerintah Wengker tahun 1078 M, lokasi Wengker diperkirakan di utara gunung Gajah, desa Bangsalan Kecamatan Sambit Ponorogo. Prabu Jaka Bagus dikenal memiliki kesaktian yang luar biasa, untuk memiliki kesaktian tersebut ia tidak mempunyai istri, sebagai gantinya ia memelihara laki-laki sebagai gantinya atau yang biasa disebut “gemblak”. Raja Jaka Bagus dikenal sebagai raja warok pertama. Warok berasal dari WARA=pria agung, pria yang diagungkan.
Wengker di masa Kerajaan Majapahit

Dimasa pemerintahan Airlangga, wilayah Kerajaan Wengker tidak pernah terjadi peperangan maupun persengketaan, sebaliknya menjadi daerah yang aman tentram. Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua yaitu Kediri atau Daha dan Jenggala atau Panjalu. Sepeninggal Airlangga terjadi perang saudara antara kedua kerajaan tersebut. Situasi yang tidak stabil itu digunakan Wengker menyusun kekuatan baru sehingga sampai berdirinya Majapahit nama Wengker masih eksis bahkan hubungan kedua kerajaan terjalin dengan baik.
Dimasa pemerintahan Majapahit, Wengker dipimpin seorang raja bernama Raden Kudamerta (Wijayarajasa), dalam Kitab Nagarakartagama disebutkan “Priya haji sang umunggu Wengker bangun hyang Upandra Nurun Narpari Wijayarajasanopamana parama-ajnottama”. Dari kitab ini menunjukkan bahwa yang membangun kerajaan Wengker adalah Wijayarajasa, sebagai raja pertama. Dalam Kitab ini juga disebutkan Raden Kudamerta menikah dengan Bhre Dhaha. Raden Kudamerta berkedudukan di Wengker dengan nama Bhre Parameswara dari Pamotan yang dikenal dengan nama Cri Wijayarajasa. Yang dimaksud Bhre Dhaha adalah dewi Maharajasa adik Tribhuwana. Berarti Wijayarajasa adalah menantu Raden Wijaya.
Selain menjadi raja Wengker, Wijayarajasa merupakan tokoh yang mempunyai peran besar di Majapahit, antara lain : salah satu dari 8 tokoh yang diundang pada waktu pengangkatan mahapatih Gajahmada tahun 1364 M, diangkat menjadi anggota dewan Sapta Prabu, menjadi anggota dewan pertimbangan agung tahun 1351 M, mengambil tindakan tegas terhadap kesalahan yang dilakukan Gajahmada atas peristiwa Bubat, dan mendapat penghargaan dari Tribhuwana Tunggadewi.
Putra Wijayarajasa yang bernama Susumma Dewi/paduka Sori menikah dengan Hayam Wuruk tahun 1357M, setelah prabu Hayam Wuruk gagal menikah dengan putri Pajajaran yang meninggal pada peristiwa Bubad. Pernikahan itu merupakan pernikahan keluarga karena ibu Susumma Dewi adalah adik TriBhuawana Tunggadewi (ibu Hayam Wuruk). Hayam Wuruk dan Susumma Dewi adalah sama-sama cucu Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana).
Dari pernikahan-pernikahan yang melibatkan dua kerajaan (Majapahit dan Wengker), menurut Dr.NJ.Krom bahwa untuk pergi ke Bubad disamakan pendapat dengan ke Wengker. Sepeti kita ketahui Perang Bubad terjadi sebagai akibat perkawinan politik yaitu salah satu cara Majapahit menaklukkan kerajaan disekitarnya. Dalam hal ini meski Wengker adalah daerah kekuasaan Majapahit, tetapi kekuatan Wengker sangat diperhitungkan Majapahit kala itu.
Dalam kurun waktu ini, dari berbagai sumber memang jarang diungkap keadaan dalam kerajaan Wengker sendiri karena memang peran Wijayarajasa lebih banyak di Majapahit dibanding memimpin kerajaannya sendiri. Ada yang memperkirakan pusat pemerintahan Wengker pada saat itu berada di sekitar Kecamatan Sambit Ponorogo. Wijayarajasa meninggal pada tahun 1310 saka dimakamkan di Manar dengan nama Wisnubhawano.
Era kepemimpinan Wengker dimasa Majapahit berikutnya adalah Dyah Suryawikrama Girishawardana, ia adalah anak Dyah Kertawaijaya. Ia memimpin Wengker sejak ayahnya masih memimpin pemerintahan Majapahit tahun 1447-1451 M. Setelah kekosongan kekuasaan selama tiga tahun ia memimpin Majapahit selama 10 tahun (1456-1466 M). Dalam kitab Pararaton ia bergelar Bhre Hyang Purwawisesa. Ia meninggal tahun 1466 M dan dimakamkan di Puri. Sampai masa ini nama Wengker masih disebut-sebut dalam sejarah Majapahit.
Wengker dimasa Kerajaan Demak Bintoro
Diakhir kejayayaan Majapahit yang mana wilayah majapahit terpecah-pecah. Wilayah seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya memerdekakan diri. Kerajaan kecil yang tumbuh menjadi besar adalah kesultanan Demak yang diperintah Raden Patah sekitar awal abad XVI. Demak menguasai kota-kota pesisir lain seperti Lasem, Tuban, Gresik dan Sedayu. Raden Patah diakui sebagai pemimpin kota-kota dagang pesisir dengan gelar sultan. Dari Demak agama Islam disebarkan ke seluruh Jawa bahkan luar Jawa.
Raden Patah adalah putra Prabu Majapahit dengan putri Cina yang pada waktu hamil muda diberikan kepada Arya Damar, setelah lahir diberi nama Raden Patah. Prabu Majapahit yang mempunyai istri putri Cina adalah Brawijaya terakhir. Arya Damar menyatakan kepada permaisurinya bahwa putranya tesebut akan menjadi raja Islam yang pertama di Jawa. Sebagaimana kita ketahui Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa adalah Demak.
Pada saat Raden Patah menginjak dewasa kerajaan Hindu Majapahit telah mulai runtuh yang disebabkan perlawanan kaum bangsawan yang telah mendirikan kota di pantai utara dan mendapat dukungan Islam. Kesempatan ini dipergunakan Raden Patah menemui Sunan Ampel atau Raden Rahmad. Raden Patah mengutarakan beberapa hal mengenai Majapahit yang telah lemah. Raden Patah tinggal di rumah Raden Rahmad untuk belajar beberapa hal, setelah cukup diberi kedudukan di Bintoro.
Bintoro dikembangkan atas dasar Islam. Mendengar hal tersebut raja Majapahit, prabu Brawijaya mengangkat Raden Patah menjadi mangkubumi di Bintoro. Berkat dukungan para wali, Bintoro berkembang menjadi kerajaan Islam pertama dengan nama Demak tahun 1481 M, dibawah pimpinan Raden Patah dengan gelar Panembahan Djimbun.
Seiring munculnya Demak, Majapahit semakin parah dilanda krisis, Brawijaya telah diganti/direbut Girishawardana yang sebenarnya tidak berhak atas tahta Majapahit. Pada waktu raja Brawijaya terakhir, telah member wilayah kekuasaan kepada Raden Patah yang kelak dikemudian hari berkembang menjadi Kerajaan Demak. Hal yang berbeda dialami putra Brawijaya V lain yang bernama Raden Katong yang belum mempunyai wilayah kekuasaan. Hingga terdengar berita bahwa sebelah timur Gunung Lawu ada seorang demang dari Kutu yang tidak mau menghadap ke Majapahit. Maka Raden Katong disuruh menghadapkan demang tersebut ke Majapahit. Selain itu Raden Katong masuk Islam.
Demang Kutu tersebut adalah Ki Ageng Suryangalam atau terkenal dengan sebutan kutu. Ia punggawa Majapahit yang masih termasuk kerabat keraton maka oleh Prabu Kertabumi / Brawijaya V, ia diberi jabatan demang. Kademangan Kutu atau Surukubeng wilayahnya adalah bekas  kerajaan Wengker, yang mana seiring semakin lemahnya Majapahit. Ki Ageng Kutu meneruskan tata cara dan adat kerajaan Wengker dahulu. Para pembantu dan punggawanya diajarkan beladiri dan berperang serta tapa brata.
Sementara itu Raden Katong dating ke wilayah Wengker bersama dengan Seloaji. Mereka menemui Ki Ageng Mirah yang merupakan putra Ki Ageng Gribig, seoarang ulama dari Malang. Ki Ageng Mirah adalah penyebar Islam di Wengker. Banyak hal penting yang dijelaskan Ki Ageng Mirah kepada Raden Katong, termasuk kesulitannya dalam menyebarkan agama Islam. Mereka kemudian sepakat berjuang bersama, Raden Katong atas dasar pemerintahan sedangkan Ki Ageng Mirah atas dasar  penyebaran agama Islam. Mereka selalu koordinasi terhadap apa yang mereka hadapi dalam perjuangan ini. Ki Ageng Mirah senang mendapat mitra Raden Katong karena masih keturunan Majapahit. Masalah Raden Katong adalah Ki Ageng Kutu tidak mau menghadap ke Majapahit sedang Ki Ageng Mirah kesulitan dalam menyebarkan agama Islam.
Pihak Raden Katong berusaha melakukan pendekatan persuasif terhadap pihak Ki Ageng Kutu, antara lain dilakukan Ki Ageng Mirah terhadap Ki Ageng Kutu secara dialogis agar Ki Ageng Kutu bersedia menghadap ke Majapahit. Tapi Ki Ageng Kutu menolak dengan alasan antara lain Kerajaan Majapahit yang memberi pintu bagi penyebaran agama Islam padahal wilayah Wengker kebanyakan menganut agama sendiri yaitu Hindu dan Budha. Dia menganggap penyebaran Islam dipimpin Raden Patah dan justru Majapahit mengangkatnya menjadi penguasa Demak Bintoro. Ki Ageng Mirah menjelaskan bahwa pengangkan Raden Patah tidak salah karena masih putra Brawijaya V. Tapi Ki Ageng Kutu tetap menganggap hal yang dilakukan Majapahit merupakan hal yang menyalahi aturan kerajaan sendiri. Akhirnya upaya dialogis yang dilakukan Ki Ageng Mirah gagal.
Upaya persuasif dari pihak Raden Katong yang gagal dilaporkan kepada Prabu Brawijaya V, dan langkah yang dilakukan Brawijaya adalah mengirim pasukan Majapahit untuk menumpas Ki Ageng Kutu. Rombongan pasukan tersebut di pimpin oleh Raden Katong. Pada dasarnya Raden Katong enggan bermusuhan dengan pihak Wengker mengingat jasa Ki Ageng Kutu terhadap Majapahit begitu banyak. Tetapi Seloaji member nasehat bahwa apa yang dianggap Ki Ageng Kutu benar adalah menurut ki Ageng Kutu sendiri, sedangkan pihak kerajaan menganggap hal yang menyalahi peraturan dan Raja pun langsung memerintahkan untuk menumpas, maka ia menasehati Raden katong untuk tidak ragu-ragu bertindak.
Maka singkat cerita terjadilah peperangan antara tentara Majapahit yang dipimpin Raden Katong beserta Ki Ageng Mirah dan Seloaji serta beberapa tokoh lain. Jalannya peperangan termasuk didalamnya strategi perang yang dilakukan tidak dibahas ditulisan ini. Maka pada tahun 1468 M, kutu sebagai ibukota Wengker jatuh ke tangan Raden Katong dan bala tentaranya. Ki Ageng Kutu bisa dikalahkan tetapi tidak ditemukan jasadnya atau musnah di bukit yang kemudian disebut dengan Gunung Bacin. Ki Honggolono sebagai tangan kanan Ki Ageng Kutu Tewas dalam pertempuran ini. Raden Katong sangat terharu melihat kematian Ki Honggolono dan musnahnya Ki Ageng Kutu mengingat mereka berdua adalah para perwira yang berjasa besar kepada Majapahit terutama ketika merebut kembali Wengker yang sempat dikuasai Kediri. Konsolidasi dalam keluarga Ki Ageng Kutu juga dilakukan antara lain menikahi dua putrid Ki Ageng Kutu yaitu Niken Sulastri dan Niken Gandini, putra pertama Ki Ageng Kutu yang bernama Surohandoko menggantikan kedudukan ayahnya di Kademangan Kutu, Suryongalim dijadikan Kepala Desa di Ngampel, Warok Gunoseco menjadi kepala desa di Siman, Waro Tromejo di Gunung Loreng Slahung.
Setelah bisa menguasai bekas kerajaan Wengker, Raden Katong mendirikan Kadipaten Baru dengan nama PONOROGO,  PONO artinya sadar/selesai, ROGO artinya semedi. Kadipaten Ponorogo berdiri tahun 1496 M dengan Raden Katong sebagai Adipati pertama dengan gelar Kanjeng Panembahan Batoro Katong.
Demikian sedikit tentang sejarah perjalanan Kerajaan Wengker yang eksis selama ± 500 tahun , yang mana meskipun kerajaan kecil tetapi sangat diperhitungkan kekuataannya oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Kahuripan dan Majapahit serta peletak dasar-dasar pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan budaya dari daerah yang sekarang bernama Ponorogo ini. sumber pilgrim

SEJARAH DESA JAPAN

Selamat Datang Ponorogo
 
Jawa Timur dilihat dari sisi budaya dibagi  4 wilayah: 1. Wilayah Santri, meliputi daerah tapal kuda (santri Jawa Madura), bagian timur Jawa Timur; 2. Wilayah Arek, meliputi Surabaya dan Malang; 3. Pantai utara (santri Jawa); 4. Daerah Mataraman (daerah pedalaman di tengah, selatan dan bagian barat Jawa Timur).
Ponorogo dilihat dari sisi budaya masuk wilayah Jawa Timur Mataraman, masih dikenal sisi magis. Daerah mataraman ini kental dengan unsur Kejawen (budaya Jawa asli. Namun untuk masa sekarang, karena banyak pendatang, dan masuk berbagai macam informasi, banyak terjadi perubahan pada pola pikir masyarakat Ponorogo dengan menjauhi sisi pikiran yang tidak rasional, jangan khawatir di tempat ini masih ada sisa-sisa unsur masa lampau yang setidaknya masih diyakini oleh sebagian warga.
***********************
Lokasi Desa Japan berada di Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Desa ini berkaitan dengan berdirinya Kabupaten Ponorogo sekarang. Diceritakan, dua orang punggawa Kerajaan Majapahit,  Jaya Dipa dan Jaya Drana mendapat  tugas dari Brawijaya V (Raja Majapahit menjelang Majapahit runtuh) untuk menyerahkan pusaka  kerajaan kepada Bathoro Katong cucunya. Dalam pencarian itu sampai di wilayah sebelah barat Gunung Wilis.
Mereka mencari Bathoro Katong, karena persoalan yang dihadapi mereka beribadah, dengan bertapa secara terpisah. Jaya Drana bertapa di Gua Bedhalisada dan Jaya Dipa di dekat Gua Sigalagala, daerah Tajug sekarang. Kedua orang itu terus menjalani ibadah. Sekali-kali mereka menghentikan ibadah mereka dan berjanji bertemu dan bermain dakon sebagai hiburan. Tempat bermain itu diberi nama Watu Dakon, sekarang lokasinya tepat berada di komplek Kampus Stain, (sekolah Tinggi Agama Islam) sebelah utara Mesjid Stain (, bekasnya masih ada dan berupa gundukan batu. Sebagian lagi berada di bawah bangunan Aula Watu Dakon. Tempat itu dulu diyakini sebagai tempat pertemuan rapat-rapat penting Bathoro Katong (pendiri Ponorogo)Watu Dakon masuk wilayah Desa Ronowijayan, Kecamatan Siman. Di lokasi watu dakon konon sering muncul sosok pria duduk di sekitar lokasi, kemungkinan ia adalah jelmaan Jaya Drana yang arwahnya masih gentayangan. Eyang Jaya Drana ini sosok baik dan tidak pernah mengganggu. Dulu waktu pelaksanaan renovasi Aula Watu Dakon (milik Stain) penduduk sekitar melihat sosok rombongan kereta kuda di malam hari. Karena kesan magis yang diyakini sampai sekarang ada ketakuran yang serius untuk memindahkan watu dakon itu
 
Watu Dakon(STAIN Ponorogo)
Jaya Drana bertapa gentur  sampai masuk alam bawah sadar, kasat mata dan meninggal menyatu dalam roh yang terbang melayang. Roh Jaya Drana ini dapat dikendalikan Bathoro Katong dan diperintahkan untuk menjaga pintu gerbang masuk Kota Ponorogo, di kreteg-kreteg, jembatan-jembatan seperti Ketegan (dekat Gedung Goong FM), Keyang di Kecamatan Jetis sekarang, Sekayu di Kecamatan Sukorejo, dan Milir (Tapal batas dengan Kabupaten Madiun di utara).
Jembatan Mlilir Masa Lampau
 
Bagi mereka yang percaya akan kegaiban Jaya Drana, berpendapat bahwa Jaya Drana masih hidup sampai sekarang, tetapi berupa roh yang terbang dan tidak kelihatan. Sampai saat ini terkadang ia menampakkan diri dan kadang-kadang juga menghilang. Sosok roh positif hadir dalam jiwa Jaya Drana, ia akan memerangi roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Bahkan mereka yang percaya, roh Jaya Drana ini dipuja untuk kesembuhan penyakit atau karena gangguan roh jahat.
Jaya Dipa banyak membantu Bathoro Katong dalam membangun Kota Ponorogo. Pusaka Majapahit ia serahkan kepadanya, sebagai pertanda penguasa Ponorogo. Jaya Dipa menjadi tokoh yang dihormati tinggal di lingkungan pemerintahan Bathoro Katong. Ia dimakamkan di dekat Gua Sigalagala yang sekarang menjadi pepundhen (sesembahan) masyarakat desa setempat. Desa ini bernama Japan berasal dari kata jayadipan  disingkat menjadi Japan.

Asal Usul Ponorogo

 
Ponorogo………
Ketika mendengar nama itu setiap orang pasti akan mengaitkannya dengan kesenian adiluhung yang tersohor ke penjuru negeri, REYOG PONOROGO. Banyak dari kita yang sudah mendengar dan mengetahui tentang sejarah asal mula Reog Ponorogo,namun sudah tahukah kita sejarah asal usul kota tempat lahirnya Reyog ini?
Sudah saatnya kita mengenal dan mengenalkan kepada orang lain (siswa) tentang sejarah kota Ponorogo ini. Dengan mengenal lebih dalam tentang Ponorogo, diharapkan bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap Ponorogo. Selain itu dengan belajar tentang sejarah Ponorogo bisa menghargai dan mentauladani perjuangan-perjuangan pendiri Ponorogo.
***
Pada tahun 1478 Masehi Kerajaan Majapahit jatuh dan kemasyhurannya telah hilang kemudian muncullah kerajaan baru yaitu Kerajaan Demak dibawah pimpinan Raden Patah. Raden Bathara Katong yang merupakan putra dari raja Majapahit Brawijaya V ikut bergabung dengan kakaknya Raden Patah di Kerajaan Demak. Raden Bathara Katong dididik kakaknya dengan ajaran-ajaran Islam.
Setelah dewasa Raden Bathara Katong diberi tugas oleh Raden Patah untuk pergi ke Wengker untuk menyelidiki daerah tersebut bersama Senapati Sela Aji.  Wengker adalah wilayah yang berada di sebelah timur Gunung Lawu. Batas sebelah selatan adalah laut selatan, batas timur adalah Gunung Wilis dan batas sebelah utara adalah wilayah Majapahit. Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji tiba di wilayah Wengker ketika hari mulai gelap. Mereka mulai kebingungan untuk menjalankan tugas karena belum mengenal seluk beluk Wengker, ditambah lagi hari yang mulai menginjak malam. Untunglah dari kejauhan terlihat nyala api yang menyala. Mereka segera menuju ketempat asal api menyala. Setelah dekat dari pusat api terlihat sebuah rumah sederhana yang di sampingnya terdapat bangunan surau kecil.
Kedatangan Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji disambut gembira dan senang hati oleh pemilik rumah dan surau kecil itu, yaitu seorang lelaki tua. Lelaki tua tersebut mengenalkan dirinya dengan nama Kiai Ageng Mirah. Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji mengaku terus terang jika mereka adalah utusan dari Kerajaan Demak untuk menyelidiki daerah Wengker.
Kiai Ageng Mirah merasa senang hati menerima tamu agung dari Kerajaan Demak. Keduanya kemudian diajak sholat magrib berjamaah. Setelah usai sholat Kiai Ageng Mirah mulai menceritakan seluk beluk dan garis besar daerah Wengker. Setelah hari larut malam, Kiai Ageng Mirah menyuruh mereka menginap dirumahnya.
Keesokan harinya Kia Ageng Mirah menyertai Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji melihat – lihat keadaan. Setelah dirasa cukup Raden Bathara Katong dan Sela  Aji kembali ke Demak dengan mengajak Ki Ageng Mirah untuk melaporkan hasil penyelidikkannya. Setelah mendengar laporan dari Bathara Katong, Raden Patah memutuskan mengangkat Raden Bathara Katong sebagai penguasa Wengker, dan mengangkat Senapati Sela Aji sebagai patih. Sedangkan Ki Ageng Mirah diangkat menjadi penasehat. Raden Bathara Katong bersama patih Sela Aji dan Ki Ageng Mirah kembali ke Wengker. Mereka disertai 40 prajurit Demak untuk membuka hutan di Wengker. Sesampainya di Wengker mereka sibuk mencari tempat yang cocok untuk mendirikan kadipaten. Sampai akhirnya mereka sampai di hutan glagah yang berbau wangi. Raden Bathara Katong member nama hutan itu Glagah Wangi. Di hutan inilah rombongan mulai membuka hutan.
Pekerjaan membuka hutan pun selesai, kemudian dilanjutkan membangun tempat tinggal. Namun dalam pembuatan tempat tinggal ini mendapatkan halangan. Ketika rumah telah usai didirikan keesokan harinya rumah-rumah tersebut roboh lagi. Ki Ageng Mirah tahu kalau ada makhluk yang mengganggu. Ki Ageng Mirah kemudian mengajak Raden Bathara Katong untuk bertapa. Pada tengah malam muncul hal gaib yaitu keluar angin besar dan tiba-tiba muncul dua sosok makhluk tinggi besar. Mereka mengaku penunggu hutan yang dibuka Raden Bathara Katong, mereka bernama Jayadrana dan Jayadipa. Kemudian Raden Bathara Katong meminta ijin kepada mereka untuk mendirikan sebuah kadipaten ditempat tersebut. Setelah mendapatkan izin dari Jayadrana dan Jayadipa pembangunan dapat diselesaikan dengan lancar.  Jayadipa pula yang kemudian menunjukkan tempat yang cocok untuk pusat kota. Tempat itu berada di tengah-tengah hutan yang sudah dibuka tersebut. Ditempat ini pula Raden Bathara Katong menemukan tiga pusaka. Pusaka yang pertama berbentuk paying yang bernama Payung Tunggul Wulung, pusaka kedua berupa tombak yang  bernama tombak Tunggul Naga. Dan pusaka yang ketiga berupa sabuk yang bernama Sabuk Chinde Puspita.
Pada saat Raden Bathara Katong mengambil ketiga pusaka tersebut terjadi tiga kali ledakan besar dan membuat tanah berhamburan. Tanah – tanah yang berhamburan tersebut kemudian membentuk lima bukit. Bukit-bukit tersebut ada yang dinamakan Gunung Lima dan Gunung Sepikul. Sedangkan lobang bekas ledakan menjadi sebuah goa yang diberi nama Goa Sigala Gala. Ternyata ketiga pusaka terrsebut adalah milik ayah Raden Bathara Katong, Prabu Brawijaya V. Saat itu Majapahit di bawah pimpinan Raja Brawijaya V diserang oleh Raja Girindrawardana. Kemudian Raja Brawijaya mengungsi ke Wengker bersama Jayadrana dan Jayadipa.
Raden Bathara Katong semakin mantap membangun Wengker setelah mendapatkan pusaka warisan orang tuanya. Pembangunan Wengker mulai berkembang dengan baik. Hutan sudah berhassil dibuka. Rumah sudah didirikan, banyak pendatang yang ikut bergabung didalamnya. Akhirnya terbentuklah sebuah kadipaten baru. Namun sayang kota tersebut belum mempunyai nama. Untuk member nama kota tersebut, Raden Bathara Katong mengadakan musyawarah. Dari musyawarah tersebut disepakati sebuah nama baru untuk kota tersebut, nama itu adalah Pramono Rogo. Pramono berarti bersatunya cahaya matahari dan bulan yang menyinari kehidupan di bumi, dan rogo berarti badan.  Nama Pramono rogo ini lama kelamaan berubah menjadi Ponorogo. Pono berarti tahu akan segala sesuatu, dan rogo berari badan manusia. Jadi Ponorogo berarti manusia yang tahu akan kedudukannya sebagai manusia.
Sumber : buku Cerita Rakyat dari Ponorogo karangan Edy Santosa

Khalifah Umar bin Khattab Konservasi Sungai Nil

Jumat, 12 Juli 2013



Forumhijau.com - Sungai Nil, sungai terbesar yang mengalir di Mesir, dulunya sering kekeringan pada bulan tertentu. Masyarakat Mesir sebelum kedatangan ‪#‎Islam‬ selalu menggelar ritual pengorbanan seorang gadis agar ‪#‎sungai‬ itu mau mengalir kembali.

Kabar ini kemudian disampaikan kepada Gubernur Mesir Amr bin Ash oleh penduduk pribumi sekitar sungai itu. Amr bin Ash kemudian mengadakan sidak dan mendapati ‪#‎SungaiNil‬ tidak mengalir.

Melihat hal itu, Amr bin Ash kemudian mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab. Dalam surat itu, Amr bin Ash menjelaskan, Sungai Nil hanya mau mengalir jika digelar tradisi pengorbanan itu.

Khalifah Umar kemudian mengirimkan surat balasan, dilampirkan sebuah catatan kecil. Dia meminta Amr bin Ash melempar catatan kecil itu ke Sungai Nil.

Surat dan catatan itu diterima dan dibaca oleh Amr bin Ash. Dia juga membuka catatan kecil itu, yang isinya sebagai berikut

"Dari hamba Allah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Jika kau mengalir karena dirimu sendiri, maka berhentilah mengalir. Namun, jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, mintalah kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk mengalirkanmu kembali."

Amr bin Ash kemudian melempar catatan kecil itu ke sungai. Kemudian, dalam satu malam, Sungai Nil kembali mengalir.

(Disarikan dari buku 'Tarikh Al-Khulafa: ensiklopedia Pemimpin Umat Islam dari Abu Bakar hingga Mutawakkil' Imam As-Syuyuti)

Allah, kalimat terakhir Soekarno sebelum meninggal

Selasa, 25 Juni 2013


Hari ini, tepat 43 tahun lalu, Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno , meninggal dunia. Haul Soekarno selalu disambut dengan doa dan tahlilan para Soekarno is. Tahun ini, ribuan warga Blitar menggelar tumpeng sepanjang 2 km di Istana Gebang. Tempat itu merupakan rumah masa kecil Soekarno .

Sayangnya kematian Soekarno tak seindah jasanya memerdekakan negeri ini.

Soekarno meninggal dalam ruang perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak napas dan rematik mengalahkan tubuhnya. Semangatnya sudah hilang bertahun-tahun lalu lalu saat Jenderal Soeharto menahannya di Wisma Yasoo.

Soekarno diasingkan dari rakyat yang dicintainya. Bahkan keluarga sendiri dipersulit jika mau menjenguk. Dengan cepat kesehatannya menurun. Soekarno menjadi linglung dan suka bicara sendiri.

Pengamanan terhadap Soekarno diperketat. Alat sadap dipasang di setiap sudut rumah. Rupanya singa tua sakit-sakitan dalam sangkar berlapis ini masih menakutkan bagi Jenderal Soeharto .

Puncaknya, Soekarno dilarikan dari Wisma Yasoo tanggal 16 Juni 1970 dalam kondisi sekarat. Dia ditempatkan dalam sebuah kamar dengan penjagaan berlapis di lorong-lorong Rumah Sakit. Hal itu diceritakan dalam buku 'Hari-hari Terakhir Soekarno ' yang ditulis Peter Kasenda dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Kondisi Soekarno terus memburuk. Pukul 20.30 WIB, Sabtu 20 Juni 1970, kesadaran Soekarno menurun. Minggu dini hari, Soekarno tak sadar dan koma.

Dokter Mahar Mardjono sadar ini mungkin detik-detik terakhir hidup Putra Sang Fajar itu. Dia kemudian menghubungi anak-anak Soekarno . Meminta mereka segera datang.

Minggu, 21 Juni 1970, pukul 06.30 WIB, anak-anak Soekarno sudah berkumpul di RSPAD. Tampak Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh dan Rachmawati menunggu dengan tegang kabar ayah mereka.

Pukul 07.00 WIB, Dokter Mahar membuka pintu kamar. Anak-anak Soekarno menyerbu masuk ke ruang perawatan. Mereka memberondong Mahar dengan pertanyaan. Namun Mahar tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala.

Pukul tujuh lewat sedikit, suster mencabut selang makanan dan alat bantu pernapasan. Anak-anak Soekarno mengucapkan takbir.

Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya. Soekarno mencoba mengikutinya. Namun kalimat itu tak selesai.

"Allaaaah..." bisik Soekarno pelan seiring nafasnya yang terakhir.

Tangis pecah. Pukul 07.07 WIB, seorang manusia bernama Soekarno kembali pada penciptanya. Berakhirlah tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia.

Tapi kematian juga yang membebaskannya dari status tahanan rumah Orde Baru. Soekarno merdeka dari para pengawal, tembok-tembok tinggi, alat penyadap dan para interogrator. Soekarno telah bebas.

Soekarno mengembuskan napas terakhirnya tepat pukul 07.07 WIB, Minggu 21 Juni 1970 setelah menderita komplikasi penyakit yang cukup parah. Hari-hari terakhir Soekarno dihabiskannya dalam kesendirian, diasingkan oleh bangsanya sendiri.

Setelah Soeharto dilantik menjadi presiden pada bulan Maret 1967, Soekarno menetap di paviliun Istana Bogor ditemani istri keempatnya, Hartini. Setiap hari, Hartini dengan sabar dan penuh kasih sayang melayani Soekarno selama sepekan penuh. Kondisi Soekarno saat itu masih cukup sehat, dan dia seringkali mengunjungi anak-anak dari istrinya Fatmawati yang masih tinggal di Istana Negara. Ketika sore menjelang, Soekarno kembali ke Bogor. Sementara Fatmawati sudah mengungsi ke rumah di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Status Soekarno saat itu sudah ditetapkan sebagai tahanan politik oleh Soeharto terkait peristiwa G30 S/PKI. Karena khawatir dengan Soekarno yang masih 'berkeliaran', Soeharto kemudian memperketat pengawasan. Belakangan Soekarno tidak dibebaskan masuk wilayah Jakarta dan harus mendapat izin dari Pangdam Siliwangi dan Pangdam Jaya untuk melintas.

Keadaan berubah drastis, saat Soeharto memerintahkan seluruh anak Soekarno keluar dari Istana Negara. Saat itu, sekitar awal Agustus 1967, Guntur, Megawati, Rachmawati, Fatmawati, dan Guruh diberi waktu 2x24 jam untuk pindah. Mereka kemudian mengungsi ke sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari rumah ibunya di Jl Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Soekarno pun mendapat perlakuan yang sama. Pada bulan Desember 1967, dia diminta keluar dari paviliun Istana Bogor. Bersama Hartini kemudian Soekarno pindah ke sebuah rumah di kawasan Batutulis Bogor.

Saat Soekarno tidak lagi menjadi presiden, tim dokter kepresidenan yang diketuai Prof Siwabessy dengan anggota dr Soeharto , dr Tang Sin Hin, dan Kapten CPM dr Soerojo yang paham rekam medis Soekarno dibubarkan pada Juli 1967. Sejak itulah, penanganan penyakit Soekarno jauh dari memadai.

Seperti dikutip dari buku 'Hari-hari Terakhir Sukarno' yang ditulis Peter Kasenda, penyakit utama Soekarno hingga dia menutup mata adalah hipertensi atau darah tinggi yang dipengaruhi ginjalnya yang sudah tidak berfungsi maksimal. Ginjal kiri Soekarno sudah tidak berfungsi sama sekali, sedangkan fungsi ginjal kanan tinggal 25 persen.

Selain itu, ada penyempitan pembuluh darah jantung, pembesaran otot jantung, dan gejala gagal jantung. Komplikasi penyakit inilah yang menyebabkan tubuh Soekarno terus membengkak. Namun Soekarno menolak upaya transplantasi ginjal. Soekarno pun kerap mengeluhkan dadanya yang sakit jika batuk-batuk. Saat di-rontgen, ditemukan tulang rusuk yang retak. Demikian juga paru-paru Soekarno yang mengalami bronchi basah disertai keluhan sesak napas. Belum lagi bibit katarak di matanya yang membuat penglihatannya berkurang.

Dengan kondisi yang cukup parah itu, Soekarno tidak mendapat penanganan yang tepat. Ditambah kawasan Bogor yang hawanya terlalu dingin, membuat penderitaannya bertambah parah, terutama penyakit rematiknya. Apalagi, satu-satunya dokter yang merawat Soekarno saat itu, dokter Soerojo bukanlah dokter spesialis. Sang dokter seringkali enggan datang saat Soekarno membutuhkan pertolongan dan obat-obatan. Tak pernah ada langkah konkret dari Presiden Soeharto untuk memenuhi permintaan alat kesehatan seperti alat cuci darah yang sangat dibutuhkan.

Di awal tahun 1968, penyakit Soekarno bertambah. Giginya mengalami ngilu yang luar biasa saat minum air dingin dan sering berdarah. Namun upaya untuk berobat ke Jakarta ditolak oleh Pangdam Jaya dan Soekarno hanya diizinkan berobat di Bogor saja. Penyakit itu ditambah lagi dengan radang sendi di bagian tangan dan pinggulnya. Secara psikis, Soekarno mengalami depresi berat, sulit tidur dan pelupa.

Kondisi yang terus memburuk itulah yang membuat Hartini sedih. Atas permintaan Soekarno , Hartini mengirimkan surat kepada Presiden Soeharto . Hartini memohon agar suaminya diizinkan pindah ke Jakarta agar mendapat perawatan yang lebih layak dan menghindari udara Bogor yang dingin. Surat itu dilampirkan keterangan medis Soekarno berikut rekomendasi dari menteri kesehatan dan tim dokter kepresidenan.

Berbulan-bulan surat itu tidak mendapat tanggapan. Hingga akhirnya, Hartini berupaya kembali mengirimkan surat yang kedua kali. Namun kali ini, Hartini meminta Rachmawati untuk mengantarkan surat itu langsung kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana.

"Mula-mula aku diterima Ibu Tien di lantai bawah. Kemudian langsung diajak naik ke atas dan ditemui oleh Pak Harto. Aku menyampaikan maaf dan menyerahkan surat Bapak serta sekaligus menceritakan bagaimana keadaan Bapak yang sesungguhnya. Hanya satu yang kumohon ketika itu, agar Bapak diizinkan kembali ke Jakarta. Entahlah kekuatan apa yang mendorongku untuk memberanikan diri berjumpa dengan Bapak Soeharto . Betapa aku merasa plong. Pak Harto berjanji akan berusaha mengatur kepindahan Bapak," tulis Rachmawati dalam buku 'Bapakku-Ibuku'
.

Setelah itu, Soekarno akhirnya dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di Jl Gatot Subroto pada sekitar Februari tahun 1969. Di Wisma Yaso, kondisi Soekarno tidak semakin membaik. Ketika tubuhnya yang semakin renta digerogoti penyakit, Soekarno secara terus menerus diinterogasi oleh perwira Kopkamtib untuk mengorek keterlibatannya dalam Gerakan 30 September. Soekarno malah balik memarahi petugas yang memeriksanya ketika ditanya apakah dia terpedaya oleh PKI.

"Berkali-kali saya tanyai Bung Karno soal hubungannya dengan Aidit dan tokoh-tokoh PKI lainnya. Bung Karno selalu marah besar kalau dia dianggap telah diperalat PKI atau dia berada di belakang rencana kup yang gagal itu. Bung Karno selalu berkata bahwa sesungguhnya ia ingin menyatukan berbagai perbedaan di bawah panji nasionalisme-agama-komunis."

Demikian pengakuan Mayjen Kartoyo, salah satu perwira dari Polisi Militer yang menginterogasi Soekarno . Interogasi terhadap Soekarno baru berakhir di awal tahun 1970 ketika Soekarno mengeluhkan hal itu kepada ketua tim dokter kepresidenan Mahar Mardjono.

Selama di Wisma Yaso, Soekarno pernah diizinkan untuk menghadiri pernikahan putrinya Rachmawati yang disunting seorang dokter bernama Martomo Pariatman Marzuki atau yang sering dipanggil Tommy. Soekarno juga pernah diizinkan berkunjung ke Bogor untuk menemui Hartini.

Selama di Wisma Yaso dari tahun 1969 sampai mengembuskan napas terakhir tahun 1970, sejumlah perawat yang secara bergantian merawat Soekarno sempat membuat catatan medis bulanan. Di tahun terakhir hidupnya, tensi darah Soekarno selalu tinggi. Paling rendah 170/90 dan puncaknya mencapai 360/200 saat Soekarno meninggal di RS Pusat Angkatan Darat.

Setiap sarapan, Soekarno selalu menenggak sejumlah obat wajib seperti duvalidan (pencegah kontradiksi ginjal), methadone (pengurang rasa sakit), hingga valium (obat tidur). Kondisinya terus melemah hingga tidak dapat bangkit dari tempat tidur, mandi dan buang air dilakukan di tempat tidur.

Jika memperhatikan catatan medis yang dibuat para perawat, terungkap jika perawatan yang diberikan terhadap Soekarno tidak maksimal. Perawatan di hari-hari terakhir Soekarno diserahkan sepenuhnya kepada dr Soerojo, yang jelas-jelas bukan dokter spesialis, melainkan dokter hewan! Demikian pula dengan jenis obat yang diberikan tidak tepat sasaran. Selain beberapa jenis obat rutin itu, Soekarno hanya diberi suntikan vitamin B1 dan B12.

Salah satu obat yang memberikan dampak buruk adalah valium yang membuat Soekarno tidurnya tidak terkontrol, tapi setelah bangun badannya terasa lemah dan kepalanya pusing. Akibatnya, kondisi tubuhnya makin buruk dan perawat hanya memberikan obat pengurang rasa sakit, novalgin.

Saat kondisinya semakin parah, Soekarno tetap menolak dibawa ke RSPAD, sampai akhirnya dengan sedikit paksaan dan bujukan dari Hartini membuat Soekarno luluh. Menjalani perawatan selama beberapa hari di RSPAD, Soekarno mengembuskan napas terakhir. Sang Proklamator, Bapak Bangsa, dan Pemimpin Besar Revolusi meninggal dalam kondisi menyedihkan

Arsip Blog

 

© Copyright Arek Japan Kulon 2010 -2011 | Design by Bukan Gagal Maksud | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.