Pencarian

News Update :

Translate

Tampilkan postingan dengan label INFO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO. Tampilkan semua postingan

Kudeta Mesir, Kudeta yang Gagal?

Minggu, 07 Juli 2013


Beberapa hari yang lalu saya pernah mengatakan dalam tulisan, bahwa cara pemberangusan Gerakan/Partai Islam dengan “Pola Pembenturan Gerakan/Partai dengan Negara” dan salah satunya dengan Kudeta, sudah tidak zamannya lagi. Ketika gelombang demokratisasi masuk ke seluk beluk ke tatanegaraan. Sama seperti ala kolonialisasi gaya lama yang ditinggal, dan sekarang ada gaya kolonialisasi gaya baru. Tulisan yan saya maksudkan adalah Kudeta Mesir dengan Militernya berani menggunakan cara kuno dan inkonstitusional ini, walaupun dengan cara yang lebih samar karena tidak hanya murni mnggunakan kekuatan militer juga, tapi juga menggunakan kekuatan sipil yang beroposisi dengan penguasa ligitimate.

Sebelumnya mari kita kenali lebih dekat pengambilan Kekuasaan ala kono dan inkonstitusional ini, Kudeta.

Kudeta dalam bahasa Perancis : coup d’État yang berarti merobohkan legitimasi atau pukulan terhadap Negara adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara ilegal dan sering kali bersifat brutal, …inkonstitusional berupa “penggambilalihan kekuasaan”, “penggulingan kekuasaan” sebuah pemerintahan Negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan. Kudeta akan sukses bila terlebih dahulu dapat melakukan konsolidasi dalam membangun adanya legitimasi sebagai persetujuan dari rakyat serta telah mendapat dukungan atau partisipasi dari pihak non-militer dan militer

Pada dasarnya alasan kudeta adalah untuk menyelamatkan Negara karena krisis dan dari kehancuran namun juga tidak sedikit yang mana kudeta hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Seperti ini pulalah yan dilakukan di Mesir beberapa hari yang lalu, atas nama menyelamatkan rakyat mereka bergerak, merampas hak kepemimpinan, menginjak kebebasan berbicara dan pers, melupakan perjuanan panjang keluar dari tirani.

Teknik dasar kudeta merupakan sebuah operasi untuk melakukan pendudukan organ-organ sentral dari sebuah Negara termasuk melakukan penetralan kekuasaan dengan menduduki tempat-tempat simbolis kekuasaan dari negara. Banyak Kudeta yang berjalan transparan tetapi tidak sedikit yang berjalan samar, memiliki agenda tersembunyi dan menjadi untold story. Dan mungkin kudeta Mesir ini akan banyak menyisakan cerita yang tak terungkap, siapa dibalik gerakan ini sebenarnya, karena perlu dsadari bahwa kudeta bukanlah gerakan ujug-ujug tanpa persiapan dan konspirasi, semuanya berjalan dengan tahapan yang panjang.

Secara teoritik ketika kudeta baru saja dilancarkan, Militer akan meluangkan waktu untuk menunggu respon dari semua kekuatan politik. Nah pada saat inilah posisi mereka sebenarnya amat rapuh. Saat itu seorang panglima militer seharusnya bisa segara menumpas dengan alasan untuk mengamankan system yang sah. Para elit politik lainnya saat itu semestinya juga berkesempatan untuk menolaknya. Kelambatan dalam mengambil respon atau tindakan justru akan melapangkan jalan mereka untuk mengambil alih kekuasaan.

Kasus Kudeta Mesir, mungkin saja akan menjadi catatan sejarah bahwa ini adalah Kudeta yang GAGAL.

Pengambilan alihan kekuasaan merupakan tindakan selain melakukan pendudukan organ-organ sentral oleh para pelaku kudeta dengan disertai pnghentian para penjabat pemerintahan atau para pemegang kekuasaan negara oleh karena bila hal ini tidak terlaksana maka akan terjadi pengaturan tanggapan terhadap gerakan kudeta tersebut dan kudeta tersebut kemungkinan besar akan gagal.

Kemungkinan Gagalnya Kudeta ini mulai terlihat, ketika keberpihakan rakyat yang meluas, tidak satu suaranya militer dalam kudeta, dan tentunya dukungan media dan dunia internasional. Dan hal-hal ini mulai terlihat.

Hari Jumat kemarin (6/7) selepas sholat jumat, jutaan rakyat Mesir dari berbagai penjuru tumpah ruah turun ke jalan. BBC melaporkan jumlah rakyat Mesir yang mendukung Mursi mencapai 30 juta orang.

Mereka mendukung kepemimpinan sah Presiden Mursi dan menolak tegas kudeta militer.

Komandan Angkatan Darat Mesir menekan Jendral Abdul Fattah As-syisi untuk menarik pernyataannya Dan mengembalikan Presiden Negara yang Sah Untuk menghindari perang saudara.

Surat kabar Washington Post mengumumkan: kudeta militer di Mesir gagal

Analis Israel: Apa yg terjadi ketika mereka mengumumkan kudeta adaah Gempa. Dan saya katakan bahwa apa yang terjadi sekarang, “gelombang tsunami menyapu”

Reporter TV Israel : indikasi awal dari AS menyesali pemberian militer lampu hijau untuk kudeta terhadap Morsi.

Kepala intelijen Mesir Raafat Shehata menyatakan penolakan “lelucon” kudeta militer kepada Presiden Mohamed Morsy.

Dan tentunya ada penghitungan yang salah dari para “Pemain di Balik Layar” dari kudeta ini. Meraka salah hitung jumlah dukungan terhadap kudeta. Mereka tidak memperkirakan akan ada puluhan juta rakyat yang akan menjadi benteng hidup perjuangan melawan kudeta, para pendemo anti kudeta sudah membawa kain kafan mereka sendiri. Walaupun Demo anti Kudeta adalah Demo Damai, namun mereka menyadari bahwa yang dihadapi adalah militer dan demo tandingan yang tidak punya aturan, kemungkinan apapun bisa terjadi, dan mereka siap untuk dengan kain kafan mereka.

Jenderal As-Sisi lupa, bahwa Organisasi yang ia hadapi bukan organisasi biasa atau grup penggembira yang akan menyingkir dan lari saat kena panas atau hujan. Ia berhadapan dengan organisasi yang pernah dicoba diberangus berkali-kali, dipenjarakan, ditindas, dibunuh pemimpinnya, dan ini memang organisasi yang anggotanya sudah siap mati demi kebenaran.

Jalan masih panjang, dan semua kemungkinan bisa saja terjadi dalam hitungan menit dan jam, semua bisa berubah dan apapun yang terjadi Kebenaran tak akan Sirna. Dan yang pasti Jenderal As Sisy yang takut dihukum pasti tak lekas menyerah, perjuangan masih harus berlanjut.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada para pejuang kebenaran, untuk terus kuat dan bertahan, Doa Kami dari Indonesia untukmu Waha Saudaraku

Kampung Islam Di Bali Diserang Para Pria Berbaju kekar

Sabtu, 08 Juni 2013



Pasca-penyerangan dua rumah warga di Kampung Islam Kepaon, Pemogan, Denpasar, Jumat (7/6/2013) siang tadi, situasi di lokasi kejadian masih tegang. Puluhan pemuda Kampung Islam Kepaon siaga dengan membawa senjata tajam di sekitar rumah mereka.

Untuk mengantisipasi aksi balas dendam pemuda Kampung Kepaon, petugas gabungan Polda Bali dan Polresta Denpasar menempatkan personelnya di semua pintu keluar Kampung Kepaon. Polisi bersenjata laras panjang tampak berjaga-jaga di taman pancing untuk mencegah pemuda Kepaon keluar dari kampungnya.

"Gabungan dari Polda dan Polresta sudah diturunkan," ujar Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan AKP I Gusti Ngurah Yudistira di lokasi kejadian.

Seperti diberitakan, dua rumah di Kampung Islam Kepaon, Denpasar, Jumat (7/6/2013) sekitar pukul 14.00 Wita, dirusak puluhan orang berbadan kekar. Tak hanya merusak rumah, massa yang mengamuk membabi buta juga menusuk penghuni rumah.

Dua rumah di Kampung Islam Kepaon, Pemogan, Denpasar, dirusak puluhan orang berbadan kekar, Jumat (7/6/2013) sekitar pukul 14.00 Wita. Tak hanya merusak rumah, massa yang mengamuk membabi buta juga menusuk salah seorang penghuni rumah.

"Datang puluhan orang pakai baju hitam cari yang namanya Lutfi tapi Lutfi enggak ada, langsung hancurin rumahnya Lutfi. Bapak dari Lutfi namanya Abdullah keluar malah kena luka di punggung belakang," ujar saksi mata, Hatirah di lokasi kejadian, Jumat.

Hatirah sempat panik saat massa akan membakar rumah tersebut. Dia pun langsung mengingatkan massa agar tidak melakukan pembakaran karena rumahnya bersebelahan dengan rumah Lutfi.

Setelah selesai merusak dan memporak-porandakan isi rumah, massa kemudian pergi meninggalkan lokasi. Rumah lain yang dirusak terletak di Gang Sandat, dekat dengan lokasi pertama.

Saat ini polisi telah berada di lokasi kejadian untuk menyelidiki kasus ini. Dugaan sementara, penyerangan ini buntut dari perkelahian semalam antara anak pemilik rumah yang dirusak dengan anggota salah satu ormas di Bali.

Eks Kru TV One Luncurkan Buku Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam

Kamis, 06 Juni 2013



JAKARTA – “Revolusi media tidak akan pernah terjadi di media arus utama. Mereka lebih sibuk dengan popularitas, rating dan uang. Revolusi media lahir dari pinggir, dan dilakukan oleh sekelompok orang yang dianggap tidak ada. Siapakah mereka? Mereka adalah jurnalis Muslim yang senantiasa membela Agama Kebenaran, penuh dedikasi dan keikhlasan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan..”

Demikian kalimat pembuka dalam buku yang berjudul “Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam” yang ditulis oleh Mohamad Fadhilah Zein, diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar.

Belum lama ini, buku yang mendapat kata pengantar dari Wartawan Senior Herry Mohammad (Redaktur Pelaksana Majalah Gatra) ini, diluncurkan bersama sejumlah jurnalis muslim yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Warung Teko, Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta.

Fadhil – begitu ia disapa – adalah seorang Jurnalis televisi yang paham betul tentang jagad dunia jurnalisme. Ia merasa prihatin dengan media massa di Indonesia, sengaja atau tidak, telah bertindak zalim terhadap umat Islam di republik ini. Realitas ini mendorongnya untuk menghimpun fakta dan bukti kezaliman yang dilakukan media terhadap umat Islam.

Buku yang ditulis Fadhil, lelaki kelahiran 1 April 1979 ini, menjadi pengingat bagi para jurnalis muslim agar memahami peran dan tugasnya, dan selanjutnya bekerja sesuai dengan rambu-rambu syar’i. Jika tidak, mereka akan menjadi bagian dari scenario besar yang hendak memadamkan cahaya Islam di bumi pertiwi ini, secara sadar maupun tidak.

Terdapat lima bab yang dibahas buku ini. Bab I membahas tentang Kebebasan Pers Pasca Tumbangnya Orde Baru. Bab II: Kezaliman Media Massa Dunia Terhadap Umat Islam, Bab III: Jurnalis dan Harga Sebuah Idealisme, Bab IV: Saatnya Umat Islam Melawat Lewat Media Massa, Bab V: Resolusi Umat islam di Bidang Komunikasi.

Yang menarik dalam buku ini dalam mengkritisi setiap kezaliman media terhadap umat Islam, mulai dari pemberitaan terorisme, pemberitaan miring soal Front Pembela Islam, pemberitaan Sunni-Syiah, pemberitaan kerusuhan Ambon dan Poso, pemberitaan HKBP Ciketing Bekasi dan Gereja Yasmin.

Kezaliman media massa dunia terhadap umat islam juga disinggung dalam buku ini, mulai dari kezaliman media memberitakan Perang Irak, kezaliman media dalam pemberitaan 11 September 2001, dan sebagainya.

Fadhil menegaskan, meskipun umat islam mayoritas di negeri ini, namun tidak memiliki kekuatan untuk membangun opini public yang positif tentang dirinya sendiri. Jika kita telaah dan telusuri, begitu banyak pemberitaan yang menyudutkan Islam.

Saat menulis buku ini, Fadhil masih bekerja sebagai News Produser TVOne yang selama ini zalim terhadap umat islam, terutama pemberitaan seputar terorisme. Perang batin yang dirasakan Fadhil atas kebijakan redaksi, tempat ia bekerja sebelumnya, menjatuhkan pilihannya untuk hengkang dari TV One. Karena sudah tidak ada lagi kecocokan.

Dalam bukunya, Fadhil menulis: "Pada level global, beberapa jurnalis kawakan pun memilih keluar dari tempatnya bekerja, karena bertentangan dengan hati nurani, saat kepentingan politik praktis dan tugas jurnalistik yang mengedepankan kebenaran, bertabrakan."

Ia memberi contoh, Helene Thomas dari Heart Newspaper, mengundurkan diri dari posisinya sebagai jurnalis senior di Gedung Putih. Dia dikecam oleh Pemerintah George W. Bush karena mengkritik Israel dan kebijakan politik luar negeri AS yang mengivansi Irak dan Afghanistan.

Adapula Yvonne Ridley, jurnalis Inggris yang pernah disekap Taliban, saat melakukan tugas jurnalistik pada tahun 2002. Dia kemudian masuk Islam dan melakukan kampanye Islam ke seluruh dunia. Bahkan bersama sejumlah koleganya, jurnalis muslimah yang kini berjilbab ini membangun Islamic Channel. Sepertinya Fadhilah Zein terinspirasi dengan jurnalis Barat yang kini sadar dengan kezaliman media massa dunia terhadap umat islam. Buku yang ditulisnya adalah sebuah ilmu, gagasan dan pengalaman yang sangat berharga bagi jurnalis muslim dimanapun berada.

Akibat Terlalu Sombong Farhat Abbas Ditetapkan Jadi Tersangka

Senin, 27 Mei 2013



Jakarta -Ketua Satgas Penyeleksian Caleg Partai Demokrat Suaedi Marasabessy menyatakan tidak menutup kemungkinan pengacara Farhat Abbas dicoret dari daftar caleg Partai Demokrat.... Hal ini karena Farhat Abbas ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya dalam kasus pencemaran nama baik Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

"Nanti kami rapatkan di Majelis Tinggi," kata Suaedi saat dihubungi, Jumat, 24 Mei 2013. Dia juga baru mendengar penetapan tersangka suami Nia Daniati ini beberapa menit yang lalu. Farhat Abbas mencalonkan diri sebagai anggota DPR melalui daerah pemilihan DKI Jakarta III yang meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.

Suaedi menjelaskan, Demokrat akan menanyakan duduk persoalan yang menimpa Farhat Abbas ke Polda Metro Jaya. Selain itu, Farhat Abbas juga akan dipanggil dan dimintai keterangan ihwal kasus yang membelitnya. Setelah itu, kata Suaedi, baru Demokrat akan menentukan sikap. "Jadi tidak serta merta dicoret," kata dia.

Farhat dilaporkan oleh Ramdan Alamsyah yang mewakili Komunitas Interlektual Masyarakat Betawi dan Anton Medan ke polisi. Laporan ini terkait kicauan Farhat di twitter yang berbunyi, "Ahok protes, Dasar Ahok plat Aja diributin! Apapun plat nya tetap Cina!". Pasal yang disangkakan kepada Farhat adalah p asal 28 ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ramdan Effendi atau biasa disapa Anton Medan, meminta polisi untuk segera menahan Farhat Abbas, tersangka kasus penghinaan etnis kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, melalui akun twitternya.

Menurut Anton Medan, dengan ancaman Pasal 28 ayat (2) UU RI No 11 Tahun 2008 tentang ITE, harusnya Farhat Abbas sudah bisa ditahan karena ancaman untuk pasal ini adalah pidana penjara paling lama 6 tahun.

"Selasa saya ke Polda Metro minta agar segera ditahan. Ini kan UU ITE dengan ancaman hukum 6 tahun, tapi kenapa polisi tidak tahan. Prita saja ditahan," katanya.

Ditambahkan Anton Medan, meski ada beberapa orang yang menghubungi dirinya untuk berdamai, tapi dia tetap memastikan kasus ini berjalan sampai meja hijau.

"Bukan soal damai, saya ingin tahu undang-undang bisa berjalan atau tidak. Ini dilakukan oleh akademisi dan seorang pengacara muda," katanya.

Secara pribadi Anton Medan tidak dendam dengan pernyataan Farhat Abbas. Semua yang dia lakukan semata-mata agar publik tahu mana yang boleh mana yang tidak.

Farhat Abbas, sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Cyber Crime Polda Metro Jaya terkait kasus penghinaan etnis kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Dia dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Persatuan Islam Tionghoaa Indonesia (PITI) pada 10 Januari 2013 lalu. Dalam akun twitter @farhatabbaslaw Farhat menulis "Ahok sana sini protes plat pribadi B 2 DKI dijual polisi ke orang umum katanya! Dasar Ahok plat aja diributin! Apapun platnya tetap Cina!".

Laporan ini tercatat dalam LP/86/I/2013/PMJ/Ditreskrimsus dengan tuduhan Pasal 28 ayat (2) UU RI No 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Klewang Anak Pensiunan Brimob



Mardirejo alias Tarjok alias Klewang, yang kini ditahan Polresta Pekanbaru dikenal masyarakat sebagai Jenderal Geng motor yang banyak melakukan tindak kriminal. Pria berusia 57 tahun ini ternyata merupakan ana...k polisi dari kesatuan Brimob.

"Klewang adalah anak pensiunan polisi," kata Kabid Humas Polda Riau AKBP, Hermansyah kepada merdeka.com kemarin (24/5).

Dikatakan Hermansyah, bahwa bapak Klewang sewaktu menjadi anggota kepolisian bertugas di Bandung. "Bapak Klewang di kesatuan Brimob," tukasnya.

Klewang yang memiliki 6 anak ini sudah 2 tahun dituding sebagai pengacau di Kota Pekanbaru dengan melakukan aksi kejahatan. Dengan ratusan anggota geng motor binaannya, dia melakukan pemerkosaan, perampokan pengerusakan dan sejumlah kekerasan lainnya.

Di kalangan geng motor, sosok Klewang ditakuti karena mempunyai ilmu kebal. Namun setelah sukses berbuat onar, belakangan ini polisi baru berhasil menangkap pria bernama asli Mardirejo.

Aksi Densus 88 Akan Mendulang Antipati & Jadikan Polisi Sebagai Musuh

Minggu, 12 Mei 2013



JAKARTA - Selain menilai bahwa Densus 88 tak pernah belajar dari pengalaman dan masih tetap saja menghilangkan nyawa seseorang seenaknya, pemerhati kontra-terorisme, Harits Abu Ulya menyatakan aksi penyergapan yang disiarkan live di televisi tersebut akan mendulang antipati masyarakat.

Ia menengarai, aksi tersebut merupakan serangan balik dari desakan beberapa elemen masyarakat beberapa waktu lalu yang ingin membubarkan Densus 88. Dengan demikian Polri ingin menggiring opini bahwa eksistensi Densus 88 masih dibutuhkan.

“Dan di balik aksi Densus kali ini saya mengeja adalah bagian rangkaian dari aksi-aksi sebelumnya dengan target memberikan pesan kepada publik bahwa Densus masih diperlukan eksistensinya. kata Harits Abu Ulya kepada voa-islam.com, Jum’at (10/5/2013).

Padahal dalam waktu dekat Komisi III berencana membentuk Panja terhadap kinerja Densus 88 demikian pula dengan Komnas HAM yang akan melakukan rapat paripurna terkait temuan dugaan pelanggaran HAM Densus 88.

“Mengingat dalam bulan-bulan ini Komisi III DPR RI akan membentuk Panja terkait Densus. Evaluasi kinerja dan keuangan Densus sangat mungkin dilakukan dan Panja DPRD Poso juga akan ke Komisi III membeberkan bukti-bukti kejahatan Densus. Di sisi lain Komnas HAM juga memparipurnakan hasil investigasinya terkait kejahatan Densus dan kesimpulannya mengarah bahwa benar adanya Densus diduga kuat melakukan pelanggaran HAM serius dan bahkan bisa dibuat pengadilan ad hoc (HAM) untuk mengadili Densus,” bebernya.

Harits memandang bahwa aksi heroisme Densus 88 yang disiarkan melalui televisi ini justru akan kontraproduktif.

“Nah, kalau beberapa hari ini Densus seolah di atas angin dengan dibantu media TV yang jadi Public Relation (PR)-nya (TV One) maka bagi yang jeli dan kritis akan melihat bahwa heroisme Densus adalah kontraproduktif,” ujarnya.

Bahkan, aksi tersebut akan semakin menempatkan polisi sebagai musuh dan masyarakat akan bertindak brutal sepertihalnya yang dilakukan Densus 88.

“Sebuah kekerasan yang eksesif terhadap sebagian anggota masyarakat dan akan mendulang sikap antipati masyarakat terhadap anggota Polri secara keseluruhan. Lihatlah di banyak tempat polisi telah menjadi ‘musuh’ masyarakat dan sebagian masyarakat bertindak brutal ya karena ada yang mencontohkan seperti halnya tindakan Densus 88,” tutupnya.

Papua Nugini Janji Usut Kasus Penembakan WNI



JAYAPURA - Konsul RI di Vanimo Papua Nugini, Jahar Gultom mengatakan, tentara Papua Nugini (PNG Defence Force) berjanji akan mengusut kasus penembakan terhadap WNI yang dilakukan tentaranya.

Dalam pertemuan dengan PNG DF dan pemerintah daerah Provinsi Sandaun (PNG) itu, pejabat PNG telah menyatakan akan mengusut tuntas kasus penembakan yang dilakukan tentara PNG.

Jahar Gultom mengatakan dari informasi awal yang terungkap saat pertemuan tersebut, tembakan dilakukan karena WNI mencoba melarikan diri saat ditanya tentang barang yang mereka bawa. "Pihak PNGDF (tentara PNG) menyatakan kalau anggotanya itu tidak menem

bak orang (WNI)tetapi perahu motor yang mereka gunakan dengan harapan agar tidak melarikan diri," ujarnya.

Menurut Jahar, selain melakukan pertemuan dengan pejabat pemerintah Provinsi Sandaun dan PNGDF maka pihaknya juga sudah melaporkan insiden tersebut kekedutaan besar RI di Port Moresby. Insiden penembakan itu sendiri terjadi Rabu (8/5) di kampung Lido, Provinsi Sandaun, PNG, saat tiga WNI asal Jayapura berkunjung ke kampung tersebut guna bertemu dengan keluarganya.

Saat berada di sekitar perairan kampung tersebut tiba-tiba datang lima orang tentara PNG mendatangi mereka dan dari jarak sekitar 60 meter kemudian mereka ditembak sebanyak tiga kali hingga akhirnya mengenai Edward Aritahanu (18 tahun) dibagian kakinya. Korban saat ini masih dirawat di RSUD Dok Dua Jayapura.

Kisah Malam Bersejarah Disaat sang Cicak Dikepung Para Buaya

Selasa, 07 Mei 2013


Sebuah dering telepon pada hari Jumat, 5 Oktober 2012 lalu, membuat Menko Polhukam, Djoko Suyanto, terpaku diam. Raut wajahnya serius menyimak laporan Juru Bicara KPK, Johan Budi, yang mengabarkan berita genting. Dengan suara tegang dari seberang telepon, Johan mengabarkan pengepungan anggota Polisi dan Densus 88 yang bersenjata untuk menjemput paksa Novel Baswedan yang baru saja usai memeriksa tersangka korupsi, Irjen Pol Djoko Susilo.
Mendapat laporan genting tersebut, Menko Polhukam Djoko Suyanto saat itu juga menghubungi Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk konfirmasi kebenaran berita tersebut, dan menginstruksikan untuk segera menarik mundur pasukannya dari KPK malam itu juga. Namun jawaban Timur Pradopo membuat Djoko Suyanto mengernyitkan dahi. Timur mengaku tidak tahu menahu ada anggotanya yang mengepung KPK. Lalu Timur menyebutkan sebuah nama, Nanan Sukarna. Djoko Suyanto lantas segera menelepon Nanan saat itu juga dan dijawab Nanan, “Siap laksanakan, malam ini juga!” menjawab perintah Djoko.
Sejak pukul 18.00 WIB, belasan mobil mahal masuk gedung KPK. Dari dalam mobil-mobil berhamburan keluar personel Polisi serta personel Densus 88 yang berpakaian safari dan batik. Semuanya membawa senjata. Tujuan mereka cuma satu, menangkap Novel Baswedan, hidup atau mati.
Mobil-mobil tersebut diparkir di samping gedung KPK. Para Polisi berpakaian preman ini kemudian mematkan lampu halaman depan gedung KPK dan merengsek masuk Gedung KPK. Sebagiannya lagi menyebar ke samping dan belakang gedung KPK. Tampak di antara mereka pejabat Polda Metro Jaya, AKBP Herry Heryawan, Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Helmi santika, dan Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Toni Harmanto.
“Jangan menghalangi kami. Ini tugas negara!” bentak para Polisi tersebut kepada para Satpam Outsourcing KPK yang membuat pagar betis, saat para tamu tak diundang tersebut mencoba memaksa masuk KPK. Namun para Satpam KPK juga tidak kalah garang dan balas membentak, “Kami juga menjalankan tugas negara!”. Adu mulut pun tak terelakkan di gedung yang menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah tersebut.
Sekitar pukul 20.00 WIB, rombongan polisi dari Polda Bengkulu yang dipimpin Direskrimum Polda Bengkulu, Kombes Dedy Irianto, tiba di gedung KPK. Dedy dengan sigap menunjukan sepucuk surat (tanpa nomor) agar Novel menghadap Kepala Satuan Reserse Kriminal (Korseskrim) Polri, Yasin Fanani, malam itu juga. Novel dituduh melakukan penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian pelaku perampokan Sarang Burung Wallet pada tanggal 18 Februari 2004 lalu disaat Novel menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu.
Malam itu suasana di KPK sangat tegang dan mencekam. Satu-satunya pimpinan KPK yang ada di kantor pada saat itu hanyalah Wakil Ketua KPK, Zulkarnain. Para pimpinan lain sedang berada di luar kota. Abraham di Makassar, Bambang di Samarinda, dan Busyro di Yogya.
Peristiwa ini menjadi santapan empuk para pemburu berita yang saat itu masih stand by di KPK setelah Djoko Susilo selesai diperiksa KPK. Kabar pengepungan Polri terhadap KPK menyeruak dengan cepat melalui BBM, Twitter, Facebook, dan Media Online lainnya. Berita pengepungan ini mengundang para simpatisan dan pegiat anti pemberantasan korupsi berbondong-bondong mendatangi KPK malam itu juga. Motivasi mereka cuma satu, membela KPK mati-matian dan mempertahankan penyidik KPK dari cidukan Polisi.
Kericuhan pun tak terhindarkan. Halaman dalam gedung KPK dipenuhi massa yang berjumlah hampir 1.000 orang. Kemarahan Massa tidak terkendali, semuanya histeris dan berteriak marah. Gelombang massa yang mendukung KPK semakin malam semakin banyak mendatangi gedung itu yang berdiri kokoh dan megah di Jl. Rasuna Said, Kuningan, termasuk massa dari aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Tujuh Polisi berpakaian batik terjebak dalam Lobby KPK. Abraham dan Bambang yang mendengar berita genting ini langsung tancap gas menuju KPK, setelah mendarat di Bandara Soetta. Setibanya di gedung KPK, Abraham tidak dapat menahan emosi dan amarahnya. “Braakk!” Abraham menggebrak dan menghantam meja didepannya.
Saat itu sudah banyak yang hadir di KPK pada malam bersejarah itu, termasuk mantan pimpinan KPK, Erry R. Ardjapamekas dan Amien Sunaryadi, anggota DPR, Martin Hutabarat dari Gerindra serta Tjatur Sapto Edy dari PAN, Sepupu Novel, Anis Baswedan yang adalah seorang Rektor Universitas, Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indraya, termasuk artis Glenn Fredly juga turut hadir di KPK setelah membaca tweet pengepungan KPK di Twitter.. Semua yang hadir marah dan geram.
“Kalian kalau mau dukung KPK bukan begini caranya!!” Abraham membentak. Melihat suasana yang sudah tidak kondusif tersebut, Novel yang masih berada di lantai Dua KPK segera turun untuk menyerahkan diri pada polisi. Namun dengan tegas Abraham melarangnya dan memerintahkan Novel kembali ke lantai dua.
Disaat yang bersamaan, malam itu juga puluhan personel TNI termasuk pasukan elite TNI AL, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), merapat ke KPK untuk membantu KPK. Para prajurit elit tempur TNI ini dikerahkan atas perintah resmi Panglima TNI untuk menjaga KPK.
Kakak kandung Novel Baswedan, Hafidz Baswedan yang bertugas di TNI AL juga tampak hadir. Sang kakak terpanggil untuk menyelamatkan adiknya. Para tentara yang merapat ke KPK sudah siap tempur jika sampai terdengar tembakan dari Polisi di gedung itu.
Sementara itu di dalam gedung KPK sejumlah senjata disiagakan oleh para Polisi yang terjebak untuk mengantisipasi jika situasi tidak memungkinkan. Perang sudah nyaris pecah. Situasi tidak terkendalikan. Menjelang dini hari, atas instruksi Nanan Sukarna, para Polisi tersebut akhirnya meninggalkan gedung KPK dengan tangan hampa.
Peristiwa tersebut membuat Cikeas berang. Sang Jenderal akhirnya memutuskan untuk turun gunung menangani konflik yang berlarut-larut antara sang Cicak dan Buaya. Buntut dari pidato sang Jenderal, Polda Bengkulu gagal dapat Penghargaan dari Polri, justru membuahkan teguran langsung dari Kapolri terhadap Kapolda Bengkulu.

Bagaimana Melakukan Shalat Sambil Menggendong Bayi

Senin, 06 Mei 2013




SEORANG ibu tetaplah seorang ibu. Manakala menunaikan kewajiban shalat, ada anak yang terus membutuhkannya—utamanya bayi. Bagaimana Rasul SAW mengajarkan u...mmahat melakukan shalat ketika juga harus menggendong bayi?

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah menjawab, “Shalat wanita sambil menggendong anaknya tidak apa-apa bila anaknya dalam keadaan suci dan memang butuh digendong karena mungkin anaknya menangis dan bisa menyibukkan si ibu apabila tidak menggendongnya.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan. (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17)

Ini merupakan bentuk kasih sayang terhadap anak-anak dan bayi-bayi. Karena apabila mereka menangis sementara seseorang sedang shalat. Terkadang tangisan mereka menyibukkan dia dari shalatnya. Allah ta’ala berfirman,

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al Ahzab: 4).

shalat menggendong bayi

Yang harus diperhatikan adalah perkara yang berkaitan dengan syarat suatu kesucian. Bila dia bisa terhindar dari kotorannya, maka tidak mengapa yang demikian. Namun apabila terdapat kotoran padanya, semisal air kencing atau selainnya, maka tidak boleh.

Dan kisah Umamah dikemungkinkan bahwa dia dalam keadaan bersih dari najis kencing atau tahi, sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama rahimahumullah. [Sumber: Anak Amanah Ilahi karya Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri (penerjemah: Abu Abdurrahman Abdul Aziz As Salafy dan Ummu Abdurrahman), penerbit: Penerbit Al-Husna bekerja sama dengan Al Fath Media, hal. 88-89]

Buruh Yang Diperbudak Takut Ditembak Brimob

Minggu, 05 Mei 2013



JAKARTA - Keterlibatan dua orang yang diduga anggota Brimob dalam praktik perbudakan dan penganiayaan puluhan buruh pabrik pengolahan limbah jadi panci aluminium Tangerang, Banten, membuat para buruh tidak berkutik. Para buruh pun terpaksa hidup bekerja dalam kesengsaraan.

Rahmat Hidayat (18), salah seorang buruh yang menjadi korban, mengatakan bahwa dalam pabrik di Kampung Bayur Opak, RT 03 RW 06, Lebak Wangi, Sepatan Timur, Tangerang, Banten, tersebut terdapat empat mandor dan satu orang bos. Meski menang dalam segi jumlah, Rahmat mengaku bahwa para buruh tak berani melawan.

"Soalnya ada anggota Brimobnya, semuanya pada takut. Akhirnya kita terpaksa diam saja," ujarnya saat ditemui Kompas.com di halaman Polres Kota Tangerang, Sabtu (4/5/2013).

Menurut Rahmat, oknum Brimob berinisial Njm dan Ags tersebut sempat memberikan ancaman terhadap para buruh. Oknum yang disebut Brimob itu pernah melepaskan satu kali tembakan dari sepucuk senjata apinya ke arah tanah, persis di samping kaki kanan salah seorang buruh rekannya. Buruh pun terkejut.

Rahmat menuturkan, intimidasi yang dilakukan kedua oknum aparat tersebut dilakukan karena ada beberapa buruh yang kabur dari pabriknya. Pelarian buruh itu membuat geram kedua oknum Brimob yang diketahui merupakan orang bayaran oleh pemilik pabrik itu.

"'Sudahlah, jangan neko-neko, kerja saja yang benar,' gitu dia marahnya," ujar Rahmat meniru perkataan oknum aparat kepolisian tersebut.

Arifudin (21), seorang buruh lainnya, menyebutkan bahwa kedua oknum Brimob tersebut tidak tinggal di pabrik itu. Namun, keduanya kerap berkunjung ke pabrik itu. Bahkan, oknum Brimob yang datang mengenakan seragam lengkap dengan senjata api itu kerap mengobrol santai dengan sang pemilik pabrik, YI (41).

"Semua juga tahu kalau polisinya itu orang bayarannya si bos. Orang kita diancam-ancam, kalau kabur mau ditembak kakinya," ujar Arifudin.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Tangerang Ajun Komisaris Besar Shinto Silitonga mengatakan, pernyataan buruh tentang keterlibatan oknum Brimob itu tidak ada dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Namun, ia berjanji akan mendalami jika ada keterangan itu dan akan melakukan tindak lanjut atas temuan.

Pada Jumat (3/5/2013) pukul 13.00 WIB, aparat Polda Metro Jaya dan Polres Kota Tangerang menggerebek pabrik milik YI di Kampung Bayur Opak, RT 03 RW 06, Kelurahan Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Banten, itu polisi menangkap YI dan empat orang mandor, yakni Sdm (34), Nrd (34), Jaya alias Mandor (41), dan TS (34).

Penggerebekan tersebut berdasarkan laporan dua orang buruh pabrik tersebut yang berhasil kabur, yakni Andi Gunawan dan Junaedi, ke Polres Lampung Utara pada 28 April 2013. Mereka melaporkan adanya tindak perampasan kemerdekaan sekaligus penganiayaan terhadap puluhan buruh yang dipekerjakan YI di pabrik.

Kini kelima tersangka sekaligus barang bukti dan para korban masih diperiksa intensif di Polresta Tangerang. Kelima tersangka diancam Pasal 333 KUHP tentang merampas kemerdekaan orang lain dan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman delapan tahun penjara.

Arsip Blog

 

© Copyright Arek Japan Kulon 2010 -2011 | Design by Bukan Gagal Maksud | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.